Kamis, 24 November 2016

Dargom (VI)

Ketujuh caila prasasti masih berdiri kokoh setelah menahan dinginnya malam. Embun perlahan mulai menguap, sirna ditimpa semburat cahaya mentari.

"Seperti rencana kita dua hari yang lalu, kedua team berpisah di sini." Bejo berbucara tegas pada keenam anggota Kala Hitam, Jaya dan Sarikem. Mereka semua mengangguk tanda sudah paham. "Dan Ki Banyaktombe, saya mewakili teman-teman menghaturkan banyak terimakasih atas bantuannya, sejak pertama saya dan Jaya bersaudara kemari hingga saat ini Ki Banyaktombe telah banyak berjasa bagi kami."

"Jangan terlalu memuji anak muda." Ki Banyaktombe yang tak lain adalah pemilik kedai kopi begitu rendah hati, "aku yang tua ini hanya melakukan apa yang bisa kulakukan. Jika ini sudah menjadi keputusan kalian, ingatlah segala pesan yang sudah kusampaikan."

"Baik Ki, kami akan selalu mengingatnya. Dan teman-teman selamat berjuang." Bejo mengakhiri perkataannya dengan menjabat tangan Ki Bayaktombe, selanjutnya semua orang saling berjabat tangan.

Bejo, Bagus, Jaya, Sarikem dan Atma melangkah memasuki perbatasan Dargom, sementara Yanto, Kris, Paimin, Panji dan Ki Banyaktombe mengiringi kepergian team Bejo dengan mata mereka sampai hilang terhalang semak belukar. Team Yanto dan Ki Banyaktombepun akhirnya meninggalkan tempat tersebut ke arah desa Wates Kulon di mana Ki Banyaktombe tinggal.


Team Bejo terus menyusuri lebatnya hutan, udara begitu sejuk dan bersih sama sekali belum tersentuh karbon dioksida hasil pembakaran bahan bakar fosil. Hutan semakin lembab karena sinar mentari banyak yang terhalang daun-daun, dalam kondisi seperti ini justru pandangan bisa lebih luas karena dari pohon ke pohon tak ditumbuhi semak belukar, yang ada hanya tumpukan daun-daun gugur yang lembab. Mereka berhenti sejenak, sebab tak ada jalan setapak artinya hutan ini tak pernah terjamah manusia.

"Teman-teman kalian merasa aneh tidak?" Sarikem bertanya pada keempat pemuda tadi.

"Apanya yang aneh?" Jaya menjawab. "Hutan hujan tropis ya kondisinya seperti ini. Kita tinggal menentukan arah mata angin untuk melangkah."

"Bukan itu maksudku." Sarikem coba menjelaskan. "Kalian perhatikan tidak, dari prasasti sampai sebelum masuk hutan ini ada jalan setapak, setelah pohon asam yang sangat besar tadi jalan setapak baru menghilang. Menurutku perbatasan Dargom bukan terletak pada prasasti tersebut namun hutan ini. Antara pohon asam dan caila prasasti merupakan wilayah bebas, sehingga penduduk di desa terakhir yang kita singgahi mencari kayu bakar di tempat tersebut."

"Jika begitu, berarti pencarian Dargom kita mulai dari sini." Bejo menatap Sarikem, Jaya dan kedua anggotanya yakni Atma dan Bagus. "Sebelum melangkah pastikan dalam hati kalian, apakah kalian akan terus melangkah atau tidak. Sebelum terlambat pastikan jika ini bukan jalan hidupmu pulanglah carilah jalan yang lain."

Selasa, 15 November 2016

Menjelang angka sembilan

"Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.' Demikian kata-kata eyang Darsu masih jelas terngiang dalam benakku." Tatapan Jaya menerawang jauh ke depan. "Pikirku, sehari buat sang Pencipta sebanding dengan setahun untuk manusia. Dan kini sembilan tahun telah berlalu. Saat menjelang angka sembilan sebuah cahaya remang hampir redup lalu semakin terang kembali redup lagi, hingga kini saat kujalani angka sembilan dalam remang yang penuh misteri, aku menanti apa yang terjadi di angka berikutnya."


Senin, 31 Oktober 2016

Dargom (V)

Ingin kuberlari hilang dari peradaban dan tak seorangpun yang mengharapkan aku pulang, sebab aku penat menghadapi hingar bingarnya manusia yang penuh kepalsuan." Demi ditanya Bejo sang pimpinan Kala Hitam, Sarikem tanpa menunggu lama segera bicara seakan telah lama memendam segala kekesalan dalam hatinya. "Namun aku masih punya ibu yang menyayangiku jadi tak mungkin aku hilang ditelan  bumi. Maka dari itu aku ingin membuat orang memandang keluargaku, orang menghormati keluargaku. Aku salah seorang relawan di salah satu panti asuhan yang kalian danai, saat itu Atma yang merekrutku. Aku bersedia karena ingin lari dari masalah pribadi, aku membayangkan seandainya aku bisa menjadi donatur seperti kalian. Kemudian tersiar kabar desa binaan kalian mendapat rintangan maka aku mengajukan diriku untuk ikut membantu kalian. Awalnya Atma tak mengijinkanku, namun akhirnya ia bersedia membawaku bertemu kalian secara lengkap. Mengenai kelebihanku apakah berguna bagi kalian atau tidak aku tak tahu, kecuali kalian katakan apa yang kalian butuhkan baru kujawab apakah aku punya keahlian tersebut atau tidak."

"Kami ingin mencari situs kuno."    Panji memberi penjelasan. "Rupanya Atma belum memberi tahumu ya. Kami butuh kemampuan fisik untuk keluar masuk hutan, mampu bertahan hidup dan bisa berfikir di bawah tekanan. Minimal kalau kamu pernah pramuka sudah 30 persen kemampuanmu kami pakai."

"Aku dulu penegak Bantara jadi sudah 30 persen kan? Sekarang yang 70 persennya ialah aku punya rancangan alat untuk mendeteksi benda di bawah permukaan tanah. Sayangnya belum sempurna karena masih kekurangan banyak biaya."

"Tidak masalah nona, semua teknologi berawal dari alat sederhana." Yanto nampak tertarik, "Coba kau terangkan ide dasarnya. Mungkin bisa menambah nilaimu 30 persen lagi."

"Ini bukan ideku, tetapi ide temanku dan aku membantunya jadi aku paham cara kerjanya."

Sarikem mengambil empat batang ranting kemudian menancapkan salah satu ranting ke atas tanah. "Anggap saja ini adalah A." Iapun mengukur jarak sejauh dua langkah dan menancapkan ranting kedua. "Dan ini B." Ia melangkah selangkah dan menancapkan ranting ketiga, "ini C." Terakhir ia  menancapkan ranting terakhir pada jarak dua langkah dari C. "Dan ini D."

Setiap orang terdiam memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan Sarikem. "A, B, C, D adalah elektroda yang ditancapkan ke tanah. Perbandingan jaraknya ialah A ke B 2 langkah anggap 2X, B ke C 1X, C ke D ialah 2X. Sehingga ada perbandingan jarak 2-1-2. Perbandingan ini harus ditentukan dulu, tidak harus seperti ini boleh juga 1-1-1 atau 3-2-3. Yang penting  perbandingan A ke B harus sama dengan C ke D. Elektroda A dan D diberi arus listrik, maka katoda C dan B akan menangkap gelombang listrik dan membaca apa yang ada jauh didalam tanah dan informasi tersebut diteruskan ke komputer dengan perangkat lunak tertentu. Nanti di monitor akan menampilkan warna, biru untuk material yang mudah dialiri listrik seperti air, sedangkan warna yang semakin gelap ke arah coklat tak bisa dialiri listrik, biasanya batuan. Harapannya bisa menangkap fosil atau artefak."

"Hanya sesederhana itu?" Kris penasaran.

"Tidak itu belum selesai, ingat pola jarak yang sudah dibuat, yang ini polanya 2X - X - 2X. Pengambilan data tidak hanya sekali. Setelah mendapat data yang pertama kita geser elektrodanya kecuali A sebagai tumpuan. Jika jarak awal 2 meter, 1 meter, 2 meter kita pindah B, C, D dengan jarak 4 meter, 2 meter 4 meter, ambil gelombangnya lagi. Diteruskan sampai jaraknya 100 meter 50 meter 100 meter atau sesuaikan dengan kebutuhan area pengamatan. Sesudah data diperoleh baru dianalisa." "Luar biasa." Panji bertepuk tangan. "Sayang sekali tempat yang kita tuju tak ada listrik, jadi alatmu tak akan berguna. Selanjutnya Jaya. Jangan mentang-mentang kamu kawan pimpinan bukan berarti bisa lolos seleksi."

"Baiklah." Jaya langsung angkat bicara. "Mengenai kemampuanku tak perlu dijelaskan, kalian sudah melihatnya saat peristiwa Ornamen Garudeya, selain itu aku, adikku dan pimpinan kalian yang menemukan titik awal Dargom. Sedangkan tujuanku tetap, yaitu mencari harta bedanya kali ini aku tak lagi mengejar hadiah seperti waktu itu namun aku mengincar harta peninggalan nenek moyang yang lebih besar."

"Kau pernah memusuhi kami. Bagaimana kami bisa mempercayaimu begitu saja,  bagaimana kami bisa memastikan jika kamu tak akan berbuat jahat." Giliran Kris menimpali.

"Aku tidak pernah memusuhi siapapun, hanya saja waktu itu kita berdiri di sisi yang berbeda." Jaya membela diri. "Apakah kelak aku akan berbuat jahat atau tidak tak perlu ku jawab. Yang perlu kalian ketahui aku jahat dan serakah dari sekarang, jika diantara kalian tidak pernah berbuat salah silahkan menghukum aku saat ini juga."

Sejenak semua terdiam, hanya mata yang saling bertatapan. Hening melingkupi belantara dalam beberapa detik. "Kenapa kamu menginginkan harta?" Suara Atma menggaung memecah kesunyian.

"Hanya orang kaya yang mampu berbuat banyak. Bahkan lembaga keagamaan didukung penuh oleh  kekayaan duniawi. Hanya hartawan yang mampu membangun gedung megah sebagai tempat ibadah untuk pemujaan dan rasa syukur pada Tuhan. Selain itu juga..."

"Cukup." Bejo sang pemimpin Kala Hitam memotong perkataan Jaya. "Kalian boleh bergabung, tetapi karena kalian bukan anggota Kala Hitam maka ada hak dan kewajiban dalam kelompok yang kalian tidak miliki."

"Tunggu dulu." Sarikem terheran. "Bagaimana kalian hanya begitu saja menerima kami tanpa memberi tahu kriteria penilaiannya."

"Itu termasuk hak kami." Atma yang menjawab. "Dan kami tak punya kewajiban memberi penjelasan kepada kalian berdua. Sekarang aku yang usul pimpinan." "Silahkan." Bejo memberi kesempatan.

"Sekarang tenaga kita sudah sembilan orang, sebelum kita membuat perencanaan bagaimana kalau makan siang dulu."

"Setuju." Lima anggota Kala Hitam hampir bersamaan.

"Baiklah sidang ditunda sampai makan siang usai. Jaya dan Sarikem, di sini hutan bukan restoran jadi gunakan kemampuan survival kalian. Paham."

Sarikem dan Jaya hanya mengangguk. Sesaat kemudian mereka sudah berpencar. Satu jam kemudian satu persatu kembali ke titik awal dengan membawa bahan-bahan yang diperlukan.  Tak butuh waktu lama, asap telah mengepul menebarkan aroma daging panggang. Mereka bersembilan begitu asik menyantap ubi bakar dengan lauk ikan dan daging panggang.

"Hem tak percuma ada wanita di sini." Paimin memuji Sarikem. "Rupanya kamu pandai meramu rempah-rempah menjadi bumbu daging bakar yang jauh lebih lezat dari restoran manapun."


"Atma memang pandai memilih pacar. Sesuai dengan porsi makannya." Kris menimpali.

"Kami tidak pacaran." Wajah Atma memerah.

"Belum." Jaya ikut campur.

"Bagaimana jika kita bereskan api unggunnya dan segera meneruskan rencana kita." Atma langsung beres-beres, sedangkan yang lain tak ada yang membantu. Jaya hendak membantu tapi mengurungkan niatnya setelah diberi kode oleh Yanto. Melihat semua diam, Sarikem spontan membantu Atma dan memang hal inilah yang sengaja diinginkan oleh Kala Hitam untuk bahan mengolok Atma. Mereka begitu ceria.

Sabtu, 29 Oktober 2016

Dargom (IV) ~ Runtuhnya Idealisme

"Jauh sebelum Siwa-Buddha datang ke Nusantara, jauh sebelum aksara palawa digunakan, bahkan jauh sebelum waktu yang diketahui manusia, bangsa kita telah memiliki peradaban sendiri, memiliki kehidupan spiritual sendiri." Bagus bicara dengan mantap sambil menebarkan pandangan kepada kawannya satu persatu. Bejo sang pimpinan Kala Hitam yang  berperawakan sekitar 165 cm,  duduk pada sebuah akar pohon durian yang menonjol ke permukaan tanah sambil menyandarkan punggungnya pada batang pohon tersebut. Yanto yang berperawakan kecil, tinggi, rambut sedikit ikal, mengenakan kacamata berdiri tak jauh di kanan Bejo, sebelah kanannya lagi, Paimin dan Kris masing-masing duduk pada sebuah batu. Sedangkan di sebelah kiri Bejo ada Atma orang terbesar dan tertinggi. dalam kelompok ini berdiri menyilangkan tangan di depan dada, disampingnya lagi Panji duduk pada dahan pohon yang berjarak kira-kira setengah meter dari tanah.

"Sebelum kita melangkah mencari Dargom ada baiknya kita kumpulkan dulu data-data mengenai kehidupan purba di negri kita." Lanjut Bagus. "Yanto, biasanya kamu membawa laptop  agar memudahkan pencarian data."

"Benar," Yanto menjawab sambil membetulkan letak kacamatanya. "Kali ini aku sengaja tak membawanya, karena komputer hanya alat, otak kitalah yang bekerja. Lagi pula saat ini tak semua informasi dari internet bisa dipercaya sepenuhnya. Karena siapa saja bisa menulis apapun di dunia maya, tanpa ada editor,  tanpa bukti empiris. Namun tak semuanya tidak berbobot, maka kita harus pandai memilah mana yang benar dan mana yang iseng dengan menguji setiap informasi."

"Aku setuju dengan Yanto." Kris menimpali. "Kudengar desa yang berbatasan dengan Dargom tak ada sinyal. Lebih baik kita gunakan kecerdasan kita. Namun sebelum kita membahas banyak hal, ada baiknya kita putuskan  dulu apakah kawan pimpinan dan kawannya Atma boleh bergabung atau tidak. Jika boleh bergabung pada proyek kita maka mereka harus dilibatkan dalam rapat ini meskipun mereka bukan anggota. Namun apabila tak diijinkan maka segera kita beritahu agar mereka segera pulang."

"Menurutku kita suruh mereka pulang saja sekarang. Akan lebih baik jika bergerak sendiri." Panji  langsung merespon. "Walaupun teman pimpinan dan adiknya berjasa menemukan titik awal lokasi Dargom bukan berarti boleh ikut campur lebih jauh, bagaimana jika ia berniat jahat pada kita. Kalian ingat saat peristiwa Ornamen Garudeya bukan."

"Tenang dulu Panji." Atma angkat bicara. "Lebih baik kita putuskan bersama melalui musyawarah mufakat dan apapun hasilnya  nanti semua harus berlapang dada. Usahakan jangan pengambilan suara terbanyak, karena hasilnya nanti 4 melawan 3 dan yang 3 orang akan menerima keputusan dengan berat hati."


Pada saat bersamaan, Sarikem dan Jaya duduk di bawah rindangnya pohon beringin menatap lubang yang menganga di hadapan mereka.

"Kenapa manusia hanya mau mengambil kekayaan alam tanpa ada yang peduli untuk memeliharanya." Sarikem menggerutu.

"Awalnya kamu akan merasa kesal jika melihat keserakahan manusia mengeksploitasi alam, namun jika tiba di suatu titik kamu harus memilih perut atau idealisme  maka perutmu akan jadi pemenang." Jaya menanggapi.

"Bagaimana bisa begitu?" Sarikem terheran.

"Karena aku mengalaminya." Jaya tersenyum pahit.

"Boleh ceritakan padaku?"

"Boleh, tetapi aku takut kamu bosan mendengarnya."

"Kalau mas Jaya bercerita sepanjang hari aku akan  mendengarkan dengan seksama asal tak capek yang bicara. Lagipula kita tidak tahu kapan Kala Hitam selesai rapat."

"Baiklah Sarikem." Jaya mengatur posisi duduknya senyaman mungkin. Pandangannya lepas ke arah depan, pikirannya mulai menyusun memori dari masa lampau.

"Saat kelas 3 SD aku ikut ayah  Transmigrasi ke Kalimantan Barat dengan program Perkebunan Inti Rakyat khusus Kelapa Sawit. Tujuan ayah ialah agar kami anak-anaknya bisa sekolah setinggi mungkin agar kelak kami tak seperti ayah ibu kami yang berpendidikan rendah. Karena di Jawa sebagai keluarga miskin aku sering tak terima raport karena belum bayar SPP.  Ayah tertarik dengan program pengentasan kemiskinan dari pemerintah.  Walau pada dasarnya ibu tak setuju namun beliau akhirnya mau berkorban demi kami anak-anaknya. Selama lima tahun di Borneo aku sebagai anak kecil hanya tahu senang-senang saja. Bisa mengenal budaya dan bahasa suku lain diantaranya Dayak Mualang sebagai penduduk asli, Sunda, NTT. Sayang bahasa NTT sulit dipelajari karena teman sebayaku hanya ada dua mereka dari suku dan bahasa yang berbeda sehingga dalam komunikasi menggunakan bahasa Indonrsia. Namun bahasa Sunda, Dayak Mualang bisa kupelajari walau sedikit. Di sana pula aku tahu bahwa suku Jawa memiliki berbagai logat dan tata bahasa yang beragam, mulai Banyumasan atau sering disebut Ngapak, Jawa Tengah dan Timur juga berbeda logat.

Tak semua lahan dijadikan pemukiman warga dan kebun kelapa sawit. Masih banyak orang Dayak yang tak mau menyerahkan hutannya, hutan inilah tempatku bermain dan menimba ilmu. Dari hutan inilah cita-citaku lahir ingin menjadi ilmuwan. Namun apa yang dirasakan anak tak sama dengan yang dirasakan orang tua. Ayah merasa jika program transmigrasi ini sama dengan penjara, beliau merasa seperti tahanan politik yang dibuang ke  sebuah pulau. Begini perhitungan ayahku yang tak kupahami waktu itu. Setia kepala keluarga memperoleh tanah seluas setengah hektar yaitu 50 m ke samping dan 100 m ke belakang untuk tempat tinggal di atasnya berdiri rumah panggung seluas 6x6 m2. Jadi bisa kamu bayangkan bagaimana jarak antar rumah?"

"Dari tiang listrik ke tiang listrik  100 meter. Ya aku bisa bayangkan." Sahut Sarikem. "Lanjutkan Jaya."

"Diluar pemukiman tiap KK memperoleh 2 hektar tanah yang wajib ditanami Kelapa Sawit tidak boleh tanaman lain. Hasil panennya sudah ditampung langsung oleh pabrik minyak kelapa sawit, yang letaknya ditengah perkebunan, di sana berdiri perumahan mewah para  pejabat perkebunan. Kami menyebutnya Inti. Mulai dari pembukaan lahan, tanam, perawatan, pupuk sampai panen pertama semua ditanggung oleh bank, dan yang mengerjakan adalah para penduduk transmigrasi. Mereka mendapat upah selama bekerja di kebun tersebut. Semua biaya termasuk upah yang diterima saat bekerja kelak akan dihitung sebagai utang. Sesudah kelapa sawit bisa  dipanen maka tiap KK baru mendapat 2 hektar dengan sistem undian. Setelah menjadi hak miliknnya maka hasil panen menjadi milik petani, dipotong utang selama perawatan. Dan sertifikat dipegang oleh bank sampai hutang tersebut lunas.

Perhitungan ayahku, dari tanam sampai panen 5 tahun. Biaya yang dikeluarkan anggap saja Rp.X, umur kelapa sawit di Borneo  berkisar 15 - 20 tahu. Hasil panen per bulan anggap saja Rp. Y. Yang diterima setelah dikurangi utang adalah Rp. Z. Perhitungan ayah hutang akan lunas sekitar 15 tahun, sedangkan Rp. Z hanya cukup untuk kehidupan sederhana. Perlu kamu ketahui Sarikem, harga kebutuhan pokok di sana kira-kira tiga kalilipat harga di Jawa. Sehingga saat peremajaan tiba, yaitu pohon yang tua ditebang ganti dengan pohon yang baru  butuh biaya lagi dan pasti pinjam dari bank. Maka jika sepeti itu terus maka petani tak pernah melihat sertifikat tanahnya. Akhirnya ayah memutuskan pulang ke Jawa, beliau berkata lebih baik kembali dari nol dari pada si sini nol koma.

Aku juga masih tak paham dengan pikiran beliau. Hingga aku lulus  Kuliah aku berdoa ingin tahu seperti apa pabrik minyak kelapa sawit. Oh ya aku bisa kuliah itu karena anugrah Tuhan bagi anak yang miskin, kapan-kapan bisa kuceritakan. Walaupun aku ini orang yang berdosa, tidak aktif dalam kegiatan rohani tetapi Tuhan sayang padaku. Sehingga Tuhan menjawab semua doaku. Aki di terima disebuah pabrik kelapa sawit di Swarna Dwipa.

Enam bulan aku di menghantui pikiranku. Yang lebih penting lagi aku memahami pikiran ayahku dan justru aku lebih banyak mengerti dari pada ayahku.

Tujuan utama dari sebuah perusahaan ialah memperoleh CPO singkatan crude palm oil atau minyak kelapa sawit mentah dan KPO singkatan Kernel Palm Oil atau minyak inti kelapa sawit. Untuk memudahkan aku bercerita dan tersingkap semua teka teki yang  menghantui pikiranku. Yang lebih penting lagi aku memahami pikiran ayahku dan justru aku lebih banyak mengerti dari pada ayahku.

Tujuan utama dari sebuah perusahaan ialah memperoleh CPO singkatan crude palm oil atau minyak kelapa sawit mentah dan KPO singkatan Kernel Palm Oil atau minyak inti kelapa sawit. Untuk memudahkan aku bercerita selanjutnya aku hanya menyebut CPO. Kelapa sawit merupakan tanaman tropis, jarak tanam yang ideal ialah 9 meter. CPO tak hanya menghasilkan minyak goreng namun masih banyak produk turunannya diantaranya krimer untuk kopi, sabun bahan dasarnya soda dan minyak, bahan kosmetik, biodisel dan banyak lagi. Dunia sangat membutuhkan CPO khususnya Eropa, para pemilik modal membutuhkan wilayah yang luas dan beriklim tropis. Salah satunya ialah Indonesia yang luas dan mentari bersinar sepanjang tahun. Kamu tahu Sarikem, di khatulistiwa hujan datang pada malam hari dan mentari bersinar di siang hari, hal ini merupakan surga bagi tanaman bukan. Maka para pemegang kepentingan di bidang bisnis ini menanamkan modal di tanah air kita. Dalam undang-undang dasar negara kita disebutkan tanah dan air adalah milik negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyatnya.

Sekarang ada tanah, ada air yang turun dari langit, ada rakyat. Pengusaha harus memanfaatkan semuanya.  Petama-tama harus mendapatkan lahan terlebih dahulu, pengusaha datang pada pemerintah untuk menyewa lahan, maka disepakatilah si pengusaha menyewa lahan pada koordinat sekian sampai sekian. Untuk mengelola lahan butuh tenaga, maka rakyatlah yang dilibatkan dengan tiga sistem yaitu. Perkebunan inti di mana pengusaha mempekerjakan butuh penggarap lahan bisanya dikerjakan oleh buruh tani, kedua petani binaan yaitu penduduk setempat yang memiliki tanah diminta untuk menanam kelapa sawit dan hasil panennya akan ditampung pabrik secara langsung, ketiga petani plasma contohnya transmigran."

"Yang kedua tadi kedengarannya seperti tanam paksa zaman Belanda dulu."

"Bukan seperti Sarikem, menurutku justru lanjutan dari sistem tanam paksa."


"Jadi karena hal itu kamu keluar dari pabrik CPO?"

 "Benar. Aku berfikir kelapa sawit merusak hutan kita, karena keanekaragaman hayati menjadi punah, meskipun ada upaya mempertahankan hutan lindung dan hutan adat itu hanya untuk menutupi keserakahan umat manusia. Dan orang Jawa yang datang keluar pulau rata-rata tujuannya bukan ingin membangun daerah tersebut, namun hanya ingin memperkaya diri, sesudah kaya maka ia akan pulang ke kampungnya. Banyak suku-suku yang kehilangan hutannya, makanya kemarin saat Indonesia meributkan kabut asap aku hanya tertawa karena aku sudah mengalaminya tetapi tak mampu berbuat apa-apa. Sejak keluar dari pabrik CPO aku menjadi semakin idealis, hasilnya aku jadi pengangguran selama setahun."

"Jadi sekarang idealismemu gugur Jaya?"

"Tidak, tak mungkin bisa padam. Hanya saja aku harus membutakan mata dan menulikan telinga."

"Bagaimana bisa jadi seperti itu?"

"Menganggur bukan soal bagiku, sebab setelah lulus SMU aku sudah berpengalaman menganggur sebelum bisa kuliah. Namun sebagai laki-laki sulung, sarjana lagi itu menjadi beban yang sangat berat bagiku, walaupun ibu tetap memeliharaku. Sempat aku bekerja di pabrik yang sangat kejam, aku mencoba bertahan tetapi akhirnya aku dipecat hanya dalam waktu dua minggu dengan alasan tidak sesuai dengan kriteria managemen. Akhirnya aku berdoa, jika Tuhan menghendaki aku bekerja sesuai ijazahku maka bukan aku yang mencari pekerjaan tetapi pekerjaan yang mencari aku."

"Zaman sekarang masih ada pekerjaan mencari pekerja."

"Tak langsung dijawab, aku aktif di LSM. Kamu tahu apa itu LSM?"
"Lembaga Swadaya Masyarakat.  Hanya aku tak paham bagaimana LSM mendapatkan anggaran."

"Tak perlu bingung, LSM itu sesungguhnya Lembaga Senang Masalah, jika ada masalah kami senang karena akan dapat uang. Jika tak ada masalah maka kering."

"Maksudnya?"

"Kapan-kapan kuceritakan. Saat aku masih aktif di LSM Tuhan menjawab doaku, kawanku telpon memberi kabar jika pabrik tempatnya bekerja ada lowongan dan aku direkomendasikan ke atasannya. Singkat cerita aku diterima bekerja dan beberapa prinsipku harus gugur saat itu juga." Jaya berhenti sejenak, sementara Sarikem diam menantikan penuturan Jaya. "Pertama aku tak mau bekerja ikut bangsa A, tak perlu kusebutkan karena kamu tahu bagimana    perlakuan bangsa A terhadap kulinya yang berdarah Jawa, tak usah jauh-jauh nanti kamu boleh bertanya bagaimana kehidupan orang tua Bejo dan Paimin. Mereka akan senang menceritakannnya, akhirnya aku kerja di pabrik milik bangsa A."

"Padahal semua suku pasti ada orang baik dan orang jahatnya bukan?"

"Kamu benar Sarikem, akhirnya aku sadar bahwa manusia itu yang penting hatinya bukan sukunya. Kenyataan justru suku kita yang banyak penjahatnya. Kedua aku ingin berusaha dengan kekuatanku tanpa koneksi, akhirnya aku bekerja karena koneksi. Ketiga aku tak ingin merusak alam Indonesia, kenyataan bahan baku tempatku bekerja adalah bahan galian yang akan menyisakan lubang menganga seperti di hadapan kita, jadi masih banyak bekas galian tambang yang ada di nusantara ini. Keempat."

Belum sempat Jaya melanjutkan kata-katanya Atma sudah ada di belakang mereka dan berkata. "Yang keempat seorang pimpinan tak mungkin berbuat adil, yang kelima dan selanjutnya disambung kelak saja. Kalian diminta untuk bergabung."

Tanpa menjawab Jaya dan Sarikem beranjak dari tempat duduk, mereka berjalan mengikuti langkah Atma. Sesaat kemudian mereka sudah bergabung dalam gerombolan Kala Hitam.

Bejo langsung angkat bicara, "Kami telah memutuskan apakah kalian boleh bergabung dalam ekspedisi Kala Hitam atau kalian harus pulang ditentukan oleh pernyataan kalian. Sebutkan apa tujuan kalian ingin bergabung, dan apa kelebihan kalian yang kami butuhkan."





Rabu, 26 Oktober 2016

Dargom (III)

Sarikem mengikat rambutnya yang bergelombang, butiran keringat meluncur dibalik daun telinga menuju leher yang segera dihapus dengan tangan kanan seusai menyelesaikan ikatan terakhir, dilanjutkan mengusap keringat yang ada di kening. Lengan baju disingsingkan sampai di bawah siku, sementera kancing bajunya semua terbuka sehingga tampak jelas kaos hitam bertuliskan NRIMA ING PANDUM  menggunakan aksara jawa modern. Kakinya melangkah cepat di atas tanah merah yang tertimpa cahya mentari pagi. Di sebelahnya Atma yang berbadan tinggi  gemuk berusaha memperlambat langkahnya, namun tetap saja dua langkah bagi Atma sebanding dengan tiga langkah Sarikem.

"Aku tak berjanji kalau kamu diperbolehkan bergabung dengan kami." Atma bicara tanpa menoleh  ke Sarikem. Pandangan mereka berdua melayang jauh ke hijaunya pepohonan di kanan jalan sementara perkebunan sawi ada di sebelah kirinya.

"Aku yakin teman-temanmu mau mengikutsertakan aku." Sarikem begitu percaya diri. "Wanita punya kemampuan yang tak dimiliki laki-laki, dan setiap organisasi butuh kemampuan itu."

"Kita lihat saja nanti." Atma tanpa ekspresi.

Tiba di persimpangan mereka berkelok ke kanan, dari kejauhan tampak sebuah lubang besar menganga, ada jalur untuk kendaran besar dari pinggir melingkar sampai ke inti lubang.

"Itu bekas tambang Atma?" Sarikem tertegun sejenak.

"Benar Sarikem. Bekas tambang pasir yang sudah ditinggalkan sejak dua tahun silam tanpa ada reklamasi."

Pohon beringin besar tumbuh kekar di tepi tambang, akar-akarnya berjuntai bahkan ada yang merambat ke bibir bekas galian. Di bawahnya duduk seorang pemuda sedang asik mendengarkan temannya yang bicara dengan penuh semangat sambil berdiri.

"Bukan begitu Panji," pemuda yang berdiri bicara tanpa menyadari kedatangan Atma dan Sarikem. "Bukti kebenaran teori evolusi  Darwin ada di negara kita. Kau masih tak percaya juga."

"Tenang dulu, dengarkan penjelasankanku dulu Gus." Panji tampak begitu santai menanggapi kawanya. "Ah kebetulan sekali Atma datang, biar kita dengar pendapatnya. Tetapi kenapa kamu bawa cewek Atma? Kita ke sini mau rapat, bukan tamasya jangan bawa pacar."



"Dia bukan pacarku, aku juga tahu apa tujuan kita. Perkenalkan ini Sarikem temanku, Sarikem mereka temanku Panji dan Bagus." Panji beranjak dari duduknya, mereka saling berjabat tangan.

Seusai berjabat tangan dengan Sarikem Panji menyeret Atma menjauh dari pohon beringin. "Kamu sudah gila Atma, kita tak boleh membawa orang di luar kelompok dalam acara rapat  seperti ini. Apalagi kau membawa wanita."

"Aku tahu Panji. Namun dia bersikeras ingin bergabung dengan Kala Hitam. Masalah kita dengan kelompok Mamon sudah diketahui publik, dan dia ingin sekali membantu. Jadi apa salahnya."

"Urusan dengan Kelompok Mamon memang menjadi kekawatiran  bagi orang-orang yang kita bantu, namun kita tak pernah melibatkan orang luar dalam menyelesaikan masalah kita."

"Kita memang tidak akan menambah anggota, tetapi bukan berarti kita tak butuh bantuan orang lain." Entah sejak kapan Bejo sudah ada di belakang Panji. "Tujuan awal kita membantu rakyat miskin Indonesia bukan? Kini kita ada masalah dengan  Mamon dan ada orang luar yang ingin membantu, kenapa tidak. Aku juga membawa teman, kalian pasti masih ingat peristiwa Garudeya bukan." Bejo menunjuk Jaya yang bergabung dengan Sarikem dan Bagus. "Sebenarnya adiknya juga, namun adiknya masih harus menyelesaikan sekolahnya. Kita tunggu yang lain, jika sudah lengkap baru kita mulai rapat kita. Tanpa temanku dan teman Atma. Kamu boleh protes  nanti saat rapat, sekarang tunggu saja yang lain.



Senin, 10 Oktober 2016

Sarikem

Parasnya yang cantik bersembunyi di balik kaca helm, semakin cantik di balik senyuman. Tangan kanannya memacu gas sepeda motor yang dikendarai, seakan tak sabar segera sampai ke tempat tujuan. Pikirnya aku harus segera sampai ke rumah malam ini juga, tak sabar bila harus menunggu mentari bangun dari peraduan. Ibu harus tahu malam ini juga, tak sabar aku melihat kegembiraannya saat nanti mendengar keberhasilanku.

Malam telah begitu larut diterangi bintang-bintang ketika ia berhenti memarkir sepeda motor yang dikendarai di depan sebuah rumah dari papan yang sangat sederhana. Ia mengetuk pintu dengan hati-hati.

"Bu, ibu. Tolong bukakan pintu. Aku Sarikem anakmu pulang."

Ia mengulang beberapa kali namun tetap perlahan, sebab di malam hari suara perlahan akan terdengar nyaring. Lima belas menit berlalu, pintu terbuka. Seorang wanita secantik Sarikem hanya saja usianya terlihat berbeda jauh  muncul di balik pintu. Sarikem hendak mencium tangan wanita tersebut ketika seorang lelaki yang sebaya dengan wanita itu keluar dari dalam rumah. Tanpa sepatah katapun yang terucap, lelaki itu berlalu hilang ditelan keremangan malam.

"Ibu! Apa yang ibu lakukan!" Sarikem melepaskan genggaman tangannya. Wajahnya yang tadi ceria mendadak berubah menjadi merah padam, suaranya yang lembut kini menjadi garang. "Jadi ini yang ibu lakukan ketika aku menuntut ilmu di luar kota. Aku malu punya ibu sepertimu."

Ibu Sarikem menarik anaknya ke dalam rumah sambil menutup pintu. "Kamu pikir apa yang kamu makan, buku-bukumu, uang sekolahmu, kos, pakaianmu dari mana semuanya itu. Sejak ayahmu  meninggalkan dunia ini apa yang bisa kulakukan. Ibumu ini berpendidikan rendah, tak punya keahlian. Ibu memang hina, ibu memang berdosa. Biarlah ibu masuk neraka asalkan kau tidak. Biarlah ibu menjadi hinaan asalkan kelak kau hidup terhormat. Biarlah ibumu miskin asalkan kau mendapat pekerjaan yang layak. Sekolahlah yang pintar, jadilah orang terpandang. Setelah itu kau boleh tak mengakui ibumu yang hina ini."

Tulang-tulang Sarikem seakan lepas dari badannya. Dadanya sesak bagaikan dihantam batu. Wajahnya kini pucat bagai tanpa darah. Termenung ia di sudut ruang tamu.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Inti Hitam

Dalam kumpulan putih ku merasa hitam
Ah... tidak tidak
Aku memang hitam di dalam
Hanya Tuhan yang mampu melihatnya

Senyumku penyamaran tangisku
Kidungku penyamaran serapahku
Kananku wujud kiriku
Tawaku wujud gundahku

Mojokerto, 8 Oktober 2016