Senin, 13 April 2026

Di Antara Tawa dan Sakral


Di sebuah ruang, 

berkumpul jiwa-jiwa sederhana,

tak banyak, tak ramai,

namun hangatnya cukup untuk membuat dunia terasa utuh.


Dulu, nada-nada lahir tanpa aturan,

mengalir seperti angin sore,

aku datang membawa jemari yang belum terlatih,

dan hati yang hanya ingin ikut bernyanyi.


Kami bermain seadanya,

senar kadang fals, ritme kadang tersesat,

namun tawa selalu menemukan jalannya pulang,

dan damai tak pernah bertanya tentang kesempurnaan.


Waktu berjalan pelan, lalu bergegas,

wajah-wajah baru berdatangan,

alat-alat semakin canggih, suara semakin megah,

standar pun naik tanpa terasa.


Ruang itu berubah,

bukan lagi sekadar tempat berkumpul,

melainkan panggung yang dijaga kesakralannya,

setiap nada ditimbang, setiap langkah diatur.


Aku masih di sana,

namun tak lagi sebebas dulu,

jemariku kini ragu sebelum menyentuh nada,

seolah harus meminta izin pada kesempurnaan.


Dan di antara semua itu,

ada langkah kecil berlari tanpa beban,

anakku.


Ia tak tahu tentang aturan,

tak mengerti tentang batas tak kasat mata,

ia hanya melihat ruang luas

dan ingin menjadikannya taman bermain.


Tawanya memantul di antara dinding,

langkahnya menyentuh tempat yang kini dijaga,

dan aku… terdiam di antara dua dunia

antara kebebasan yang pernah kumiliki

dan kesakralan yang kini mengikatku.


Apakah yang hilang itu kesalahan?

Ataukah hanya kenangan yang enggan pergi?


Di ujung lagu yang tak lagi sama,

aku merindukan satu hal sederhana:

bermain tanpa takut,

dan membiarkan tawa kecil itu

menjadi bagian dari harmoni.



Mojokerto, 14 April 26