Minggu, 16 Februari 2014

SYAIR DAN PUISI

Oleh : Mudji Sih Topo
Sanggau, 1993-1998


TRANSMIGRAN

Deru suara mesin kapal
Diselingi gemerciknya ombak
Di tengah samudra nan amat luas
Iringi kepergian ratusan jiwa
Sebuah pulau yang masih sepi
Sambut kedatangan mereka
Hutan terbentang amat menantang
Untuk dijadikan sebuah desa
Transmigran itulah tugasmu
Sibak belukar bangunlah desamu
Transmigran tingkatkan hidupmu
Demi nasib anak dan cucumu


INGIN PULANG

Dalam kesendirian aku selalu terbayang
Akan kampung halaman yang lama kutinggalkan
            Kuingin cepat pulang
            Ke kotaku Magelang
            Karena hidup di sebrang
Tiada perubahan


TAKBIR

Suara takbir menggema
Sibak takbir senja
Kesendirian semakin terasa
Suara takbir menggema
Sibak takbir senja
Kata maaf penuhi dunia
Adakah dosa dihapuskan
Hanya dengan kata maaf semata


BEDA TETAPI TETAP SATU


Pada zaman kejayaan Majapahit, bangsa kita mengenal tiga agama yaitu Siwa (Hindu), Budha, Karsian (Rsi). Pada saat itu konflik antar agama ada, tetapi nenek moyang kita sudah memiliki kesadaran untuk bersatu. Kita bisa melihat upaya penyatuan keberagaman agama yang ada dengan berbagai karya sastra (kakawin) pada abad12-13 M, contohnya Sutasoma dan Kunjarakarna karya Mpu Tantular. Dalam Sutasoma dikatakan "Hyang Buddha Tan Pahi Lawan Siwa Raja Dewa... Bhinneka Tungal Ika Tan HAna Dharma Mangrwa. Yang artinya Hyang Buddha Tidaklah Berbeda Dengan Bhattara Siwa...Berbeda, Namun Satu, Tidak ada Dharama mendua. Atau dalam terjemahan lain dikatakan :  Siwa tidak nyata, Budha tidak nyata tetapi kebenaran nyata adanya, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua tak ada agama dengan tujuan berbeda.”  Sedangkan dalam Kunjarakarna tertulis “ Seseorang tidak akan mencapai pelepasan terakhir walaupun mengambil jalan sebagai wiku jika menganggap dewanya lebih unggul dari yang lain.” Dari kedua karya tersebut kita bisa melihat bahwa Mpu Tantular sebagai penganut Budha menghargai dan menghormati penganut Siwa dan Rsi.
            Jauh sebelum Majapahit, di Mataram kuno (abad 8-9M) terdapat dua tempat ibadah yang berdampingan. Kita bisa melihat Candi Prambanan sebagai tempat pemujaan Siwa dan Candi Sewu di sebelahnya sebagai candi Budha. Kita masih bisa melihat kebudayaan peninggalan nenek moyang kita di Bali, dimana persatuan antara Hindu-Budha masih dilestarikan. Maka Hindu Bali menjadi sangat berbeda dengan Hindu India, karena Hindu Bali merupakan hasil persatuan agama nenek moyang kita. Di zaman Nederland Hindi sampai Indonesia merdeka saat ini kita juga masih bisa melihat persatuan agama-agama yang ada. Hampir disetiap kota, khususnya di pulau jawa, pusat kota selalu ada alun-alun yang dikelilingi pusat perbelanjaan, kantor pemerintahan, Masjid, Klenteng, Gereja Katholik dan Protestan. Namun apakah antar individu umat beragama benar-benar bersatu sama seperti bangunan tersebut diatas?
            Sayangnya persatuan umat beragama hanya slogan saja. Kenyataannya dua agama Islam dan Kristen (Katholik dan Protestan) tidak pernah benar-benar hidup berdamai satu sama lain. Saat ini mayarakat menganggap bahwa Kristen merupakan agama barat dan Islam agama timur yang saling bertentangan. Memang Kristen masuk ke Indonesia melalui Postugis dan Belanda, tetapi tidak ada agama yang lahir di barat. Hindu-Budha di India, Islam di Arab, Kristen di Israel, semuanya dari Asia. Hanya saja Kristen menjadi besar di Barat pada zaman Romawi berkuasa, kemuadian Kristen terbagi dua yaitu Kristen barat (Eropa) dan  timur (Asia). Ketika Islam lahir, pihak Islam mengusai wilayah Kristen timur dan Kristen barat menyerukan perang untuk membela saudara-saudaranya di timur. Sehingga lahirlah perang salib yang sampai saat ini membuahkan kebencian diantara kedua agama tersebut.
            Secara tidak langsung para pembawa Islam dan Kristen di Indonesia membawa juga pengaruh perang salib tersebut. Jika kita melihat secara keseluruhan Islam, Kristen dan Yahudi merupakan satu akar yang tidak pernah bersatu, sehingga para pemeluk Kristen dan Islam tak akan pernah bersatu karena doktrinnya selalu menyalahkan satu sama lain. Padahal bangsa Indonesia tidak pernah ikut terlibat dalam perang salib, tidak pernah terlibat pada konflik tiga agama tersebut dan tidak ada hubungan darah dengan orang-orang timur tengah. Ketika Kejawen menyatukan semua unsur agama mulai dari Hindu-Budha, Islam dan Kristen, justru dianggap sesat oleh pihak Islam maupun Kristen. Padahal Kejawen menganggap semuanya baik, Kejawen tidak tergantung oleh sang pembawa agama. Orang-orang Kejawen menghayati spiritualitas berdasarkan rasa dan hubungan langsung dengan  Sang Pencipta. Namun dianggap pemuja arwah dan setan. Seharusnya kita sadar bahwa tidak ada agama yang lahir di Indonesia, semua dari luar. Jika kita sudah yakin memilih salah satunya biarlah kita jangan mempengaruhi yang lain dan jangan juga terpengaruh. Biarlah kita saling menghormati pilihan masing-masing. Jangan menganggap diri sendiri benar dan yang lain salah.
            Setiap agama tidak pernah mengajarkan kejahatan bukan. Jadi dari pada kita mencari-cari kesalahan dan kelemahan agama lain lebih baik kita berlomba-lomba menjalankan perintah Tuhan berdasarkan kepercayaan yang kita pilih. Yesus berkata “Jangan menghakimi jika tidak ingin dihakimi” Maka jangan membenci jika tidak ingin dibenci, jangan menganggap yang lain salah jika tidak ingin disalahkan. Budha berkata “aku adalah kamu, kamu adalah aku.” Yesus berkata “kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi diri sendiri.” Kedua perkataan tadi memiliki makna yang sama, jadi marilah kita saling berlomba berbuat kasih dan jangan mencari kesalahan orang lain. Seperti harapan Mpu Tantular “walaupun berbeda-beda tetap satu jua” karena kita adalah sama, sama-sama manusia.

HIDUP SEJATI ATAU IDEAL


Manusia pada umumnya menginginkan kehidupan yang ideal. Akan tetapi kenyataannya di alam semesta ini hanya ada yang sejati, tidak ada yang ideal. Sebagai contoh, hukum gas ideal dapat dilihat pada persamaan P.V = n.R.T. Akan tetapi di alam ini tidak pernah ada gas ideal, yang ada adalah gas sejati. Untuk itu perlu adanya faktor koreksi untuk mencapai sesuatu yang hampir ideal. Salah satunya adalah P.V = Z.n.R.T. Dimana Z merupakan faktor koreksi yang terdiri dari sifat-sifat fisik gas yaitu tekanan kritis dan temperatur kritis. Demikian juga dengan hukum kekekalan energi, bahwa energi tidak dapat hilang hanya berubah bentuk. Tetapi kenyataannya saat terjadi perubahan bentuk energi selalu ada energi yang hilang, dan efisiensi tidak pernah 100%.
            Demikian pula dengan kehidupan manusia tidak pernah ada yang ideal. Hidup ideal antara lain tercukupi kebutuhan fisik, hati bahagia, rasa aman, hidup sesuai kehendak Sang Pencipta, mati masuk sorga. Akan tetapi kenyataannya untuk mencapai itu semua harus ada faktor koreksi. Manusia akan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan fisik. Manusia mengisi jiwanya dengan berbagai ilmu pengetahuan, filsafat, seni, agama agar bahagia. Manusia selalu dihantui rasa takut, gelisah, rasa lapar, rasa kawatir. Akan merasa kenyang jika pernah lapar, merasa tenang dan aman jika pernah takut, merasakan terang jika pernah dalam kegelapan, merasa hangat jika pernah kedinginan, merasakan kasih Tuhan jika pernah berdosa, merasakan sorga atau neraka jika sudah mati. Ketika manusia masih hidup dalam alam jasmani maka manusia akan selalu mencari dan mencari kehidupan yang ideal, namun tak pernah menemukannya. Selama perjalan hidup tersebut manusia akan bekembang ke arah lebih baik atau lebih buruk. Itulah hidup sejati.
            Yesus berkata “tidak ada seorangpun yang benar dihadapan Allah satupun tidak.” Karena tidak ada orang benar maka yang ada adalah manusia yang berusaha hidup benar. Usaha inilah yang membuahkan banyaknya agama di muka bumi ini. Setiap manusia dalam hatinya menyadari adanya sesuatu kekuatan yang dahsyat, yang tak dapat  dijelaskan, yang tak dapat dipikirkan. Maka dari itu muncullah gagasan tentang adanya Tuhan, muncullah peraturan yang mengatur hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan. Setiap suku bangsa memiliki pandangan dan cara berbeda dalam mengekspresikan hubungannya dengan Tuhan. Tujuannya adalah untuk menyatu dengan pemilik dan pencipta alam semesta ini.
            Sayangnya justru agama-agama yang ada bukan berlomba-lomba melakukan kehendak Tuhan, melainkan secara tidak langsung saling menghakimi satu sama lain. Yesus bilang “carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya...” maka dari itu manusia tak semestinya membenarkan dirinya atau kelompoknya masing-masing. Karena kebenaran manusia tergantung kerangka acuannya dan kebenaran yang ideal itu milik Allah. Akan tetapi kita tidak tahu dengan pasti acuan kebenaran Allah. Sehingga kita perlu mencarinya, dengan berbagai upaya dan dengan pertolongan Tuhan sendiri. Untuk mencapai kebenaran ideal tersebut perlu faktor koreksi dan perjalanan panjang, dan kita akan menikmati hidup sejati dan sejatinya hidup.
            Dalam perjalanan panjang manusia itulah lahir berbagai perbedaan. Perbedaan memang benar-benar membedakan satu sama lain. Omang kosong bila manusia menyatakan mau menerima perbedaan, fakta yang terjadi adalah keinginan untuk sama. Yaitu sebisa mungkin orang lain sama dengan saya. Akan tetapi tidak semua orang mampu mempengaruhi orang lain. Maka demi mempersatukan manusia, dibuatlah alasan-alasan kamanusiaan diantaranya persamaan hak, persamaan gaya hidup. Dari sinilah muncul perpecahan, perang dan kebencian. Mulanya manusia ingin menguasai yang lain, ingin orang lain sama dengan dirinya maka siapa yang terkuat dialah yang unggul, yang lemah melawan sehingga munculah peperangan pada setiap peradaban.Perang itu berbagai macam wujudnya, dari perang fisik sampai perang doktrin. Orang akan berusaha agar dunia ini satu budaya, satu agama. Dan berbagai-bagai cara dilakukan untuk saling berlomba, saling menyebarkan pengaruh. Awalnya saling menerima, tapi berikutnya saling menjatuhkan. Tujuannya satu, setiap insan ingin jadi pemenang dalam segala hal.