Aku berdiri memanipulasi agar tampak suci
Aku memfitnah agar yang lain tampak salah
Aku munafik demi kebenaran diri sendiri
Kuhancurkan semua yang menghalangi popularitasku
Kuhasut setiap manusia untuk mengikuti jalanku
Kubebaskan Barabas dan kusalibkan sang kebenaran
Darah Nya menetes sepanjang Via Dolorosa
Untuk menebus dosa manusia
Termasuk diriku yang laknat
Jum'at Agung, 14 April 2017
Jumat, 14 April 2017
Rabu, 22 Februari 2017
Cita-cita ayah
Ayah
Dulu kau bercita-cita mempunyai empat orang anak
Seorang tentara, seorang politisi, seorang dokter dan seorang lagi pendeta.
Tuhan memberi dua orang putri politisi dan guru agama Kristen.
Sedangkan lelaki sulungmu menjadi buruh pabrik dan lelaki bungsumu nampaknya akan jadi ilmuwan atau seniman.
Ayah
Dulu kau juga bercita-cita mempunyai empat orang anak,
Lalu membuat sebuah band Mudji Bersaudara.
Namun kedua putrimu ialah penyanyi sedang kedua putramu ialah bassis sepertimu.
Ayah
Kini kau damai bersama Tuhan
58 tahun telah kau jalani di dunia ini
Kini kami berempat akan menjaga ibu
Dan kelak kau akan melihat karya-karya kami dari sorga.
Dulu kau bercita-cita mempunyai empat orang anak
Seorang tentara, seorang politisi, seorang dokter dan seorang lagi pendeta.
Tuhan memberi dua orang putri politisi dan guru agama Kristen.
Sedangkan lelaki sulungmu menjadi buruh pabrik dan lelaki bungsumu nampaknya akan jadi ilmuwan atau seniman.
Ayah
Dulu kau juga bercita-cita mempunyai empat orang anak,
Lalu membuat sebuah band Mudji Bersaudara.
Namun kedua putrimu ialah penyanyi sedang kedua putramu ialah bassis sepertimu.
Ayah
Kini kau damai bersama Tuhan
58 tahun telah kau jalani di dunia ini
Kini kami berempat akan menjaga ibu
Dan kelak kau akan melihat karya-karya kami dari sorga.
Kamis, 16 Februari 2017
Teguran Tuhan
1995 ayah sakit parah, saya pikir ia akan meninggalkan kami di dunia ini. Sebab begitulah riwayat nenek moyang kami, meninggalkan anak-anak di usia muda, sehingga setiap anak pertama dalam keluarga ayah tak pernah melihat kakeknya. Yaitu saya, ayah, kakek, buyut, dan kami tak tahu siapa canggahku. Saat itu yang ada dalam benakku jika ayah dipanggil Tuhan adalah bagaimana cara membawa ibu dan kedua adikku pulang ke tanah jawa selanjutnya bagaimana saya jadi tulang punggung tak terpikir. Tak sedikitpun ada rasa khawatir, padahal saya tak paham apa itu iman dan pengharapan, sebagai anak sekolah minggu yang saya tahu Tuhan ada. Saya pelajari rute dari tempat kami tinggal Ds. Nanga Ansar naik angkutan desa ke Sepauk, menyeberang dengan perahu, naik angkutan lagi ke Lengkenat untuk mencegat bus ke Pontianak. Bagaimana cara beli tiket kapal ke Semarang saya juga tak tahu, yang jelas dari Semarang tinggal naik bus ke Magelang. Pikiran selesai sampai di situ. Namun mujizat terjadi ayah masih hidup hingga saya punya adik lagi.
2017 ayah kembali sakit dan harus masuk IGD, setelah dinyatakan pulang untuk rawat jalan saya kembali bekerja di Mojokerto. Namun kondisi tak membaik sehingga harus masuk lagi ke Rumah Sakit. Saat ini saya sudah paham arti iman dan pengharapan bahkan bisa berbicara tentang Tuhan. Namun justru kekhawatiran melingkupi pikiran saya, tak lagi mengandalkan Tuhan walaupun sudah banyak mengalami penyertaan Tuhan. Dengan panik dan pikiran kacau saya bergegas pulang bersama rekan sekerja mengendarai sepeda motor menerjang gerimis tanpa memberi tahu siapapun kepergianku bahkan orang terdekat tak tahu. Banyak yang menyarankan naik bus namun tak kuhiraukan. Pikirku aku mampu. Namun naas sesampai Ngawi setelah melewati sekian banyak lubang akhirnya kami tergelincir. Rekan sekerjaku mendapat luka parah hingga harus mendapat perawatan khusus di IGD dekat tempat kejadian.
Begitulah Tuhan menegur kesombonganku, kekhawatiranku. Faktanya mujizat masih ada ayah, rekan dan saya masih hidup.
Kamis, 02 Februari 2017
Terlambatkah
Hari ini aku bertarung dengan anak-anak yang masih bau kencur
Apakah mereka terlalu tangguh
Ataukah aku terlalu lemah
Tidak tidak
Rupanya aku terlambat melangkah
Seharusnya aku bertarung saat seusia mereka
Harusnya kini aku jadi penyelenggara
Bukan peserta
Apakah mereka terlalu tangguh
Ataukah aku terlalu lemah
Tidak tidak
Rupanya aku terlambat melangkah
Seharusnya aku bertarung saat seusia mereka
Harusnya kini aku jadi penyelenggara
Bukan peserta
Jumat, 27 Januari 2017
Saya LGBT
Sebagai seorang perantau yang jauh dari orang tua serta kampung halaman, maka kebutuhan hidup dan gaya hidup harus sesuai dengan kondisi lingkungan. Sebagai lelaki jawa satu persatu saya harus memenuhi syarat seorang ksatria yaitu wisma, turangga, curiga, wanita dan kulika. Pertama curiga artinya keris secara luas berarti senjata, di dunia modern ini senjata kita adalah keahlian dan ijazah, hal ini sudah dibekali orang tua. Selanjutnya kulika yang berarti burung, secara luas berarti kesenangan, sebab zaman dulu memelihara burung atau ayam jantan merupakan kesenangan. Akan tetapi di zaman ini walaupun banyak pecinta burung yang sering ditandingkan kicaunya banyak kesenangan lain seperti olah raga, kesenian, petualangan dan banyak lagi. Karena kesenangan saya adalah musik maka sebuah gitar akustik sudah cukup sebagai kulika.
Turangga atau kuda merupakan kendaraan utama zaman sebelum ditemukan mesin. Sesudah zaman pencerahan maka kendaraan hewan digantikan oleh mesin. Pada dasarnya sejak kecil saya biasa jalan kaki ke mana-mana, bila agak jauh naik angkutan umum. Akan tetapi ketika merantau ke jawa timur jarak dari tempat tinggal ke tempat kerja cukup jauh untuk ditempuh dengan kaki, sedangkan angkutan umum tak masuk ke kawasan industri kecuali ojek. Maka kendaraan bermotor yang awalnya bukan masalah bagi saya menjadi kebutuhan. Ada dua cara mendapatkannya yaitu kredit atau menabung sambil berdoa. Pilihan pertama tidak saya ambil karena prinsip saya lebih baik tak punya daripada dililit utang. Akhirnya sejak saat itu saya jadi LGBT yaitu Lelaki Ganteng Butuh Tumpangan. Dari numpang sana numpang sini, menabung dan berdoa, "Tuhan saya butuh kendaraan walaupun bekas tidak masalah yang penting tidak kredit." Setelah sekian lama akhirnya dapatlah saya kendaraan bekas. Tahun berikutnya bisa ganti kendaraan baru. Dan saya tetap LGBT yaitu Lelaki Ganteng Butuh Tuhan. Karena tanpa Tuhan saya tak mampu mencapai apapun.
Turangga atau kuda merupakan kendaraan utama zaman sebelum ditemukan mesin. Sesudah zaman pencerahan maka kendaraan hewan digantikan oleh mesin. Pada dasarnya sejak kecil saya biasa jalan kaki ke mana-mana, bila agak jauh naik angkutan umum. Akan tetapi ketika merantau ke jawa timur jarak dari tempat tinggal ke tempat kerja cukup jauh untuk ditempuh dengan kaki, sedangkan angkutan umum tak masuk ke kawasan industri kecuali ojek. Maka kendaraan bermotor yang awalnya bukan masalah bagi saya menjadi kebutuhan. Ada dua cara mendapatkannya yaitu kredit atau menabung sambil berdoa. Pilihan pertama tidak saya ambil karena prinsip saya lebih baik tak punya daripada dililit utang. Akhirnya sejak saat itu saya jadi LGBT yaitu Lelaki Ganteng Butuh Tumpangan. Dari numpang sana numpang sini, menabung dan berdoa, "Tuhan saya butuh kendaraan walaupun bekas tidak masalah yang penting tidak kredit." Setelah sekian lama akhirnya dapatlah saya kendaraan bekas. Tahun berikutnya bisa ganti kendaraan baru. Dan saya tetap LGBT yaitu Lelaki Ganteng Butuh Tuhan. Karena tanpa Tuhan saya tak mampu mencapai apapun.
Selasa, 17 Januari 2017
Selasa, 20 Desember 2016
Jalan Lain
Aku telah kalah dalam sayembara itu
Bukan karena aku tak mampu
Tetapi banyak yang lebih baik dariku
Aku bagai setitik debu yang berhamburan diantara banyak debu
Mungkin ini bukan jalanku
Aku harus menyimpang untuk mencari jalan mana yang harus kutempuh
Bukan karena aku tak mampu
Tetapi banyak yang lebih baik dariku
Aku bagai setitik debu yang berhamburan diantara banyak debu
Mungkin ini bukan jalanku
Aku harus menyimpang untuk mencari jalan mana yang harus kutempuh
Langganan:
Postingan (Atom)


