Senin, 09 November 2015

NYONYA POTIFAR



Aku memang budak belian
Aku kerjakan apa kata tuan
Tapi ku punya pendirian
Tak sembarangan kudiperlakukan

Aku memang budak belian
Yang sering ditinggalkan tuan
Mengerjakan semua pekerjaan
Diawasi oleh istri tuan

Nyonya Potifar aku memang budakmu
Tetapi aku bukanlah budak nafsumu
Nyonya Potifar kau milik tuanku
Kita tak bisa berbuat semaumu
Mojokerto, 9 sept’ 2015

TOLONG



Tuhan tolonglah kami
Yang lemah terdesak tak berdaya
Tuhan dengarlah kami
Yang sedih merintih menjerit perih
Tuhan bantulah kami
Yang terinjak tersandra tertawan

Penguasa di bumi pertiwi
Tak peduli nasib kami
Penguasa di bumi pertiwi
Hanya pikir perut sendiri
Mojokerto, 9 Sept’ 2015

SETAN LAUTAN



Wahai setan penguasa lautan
Kau tahlukan para raja
Kau tundukkan rakyat jelata
Yang gila harta dan kejayaan

Wahai manusia serakah
Tak mau berkarya dengan tenaga
Tak mau berjerih lelah
Hanya ingin hidup makmur sentosa

Manusia menjual jiwa
Demi jaya sementara
Manusia tak takut neraka
Terkena bujukan setan lautan
Mojokerto, 8 september 2015

BEDA



Dauri penyendiri dalam sepi
Tak bisa berbaur dalam hingar
Ia mencoba keluar tuk bersosialisasi
Ingin tahu apa itu kebersamaan

Dalam ramai ia tak merasa damai
Sebab sepi menjadi puisi dalam hidupnya
Kreatifitas menjadi mati
Saat bersama dengan yang lainnya

Manusia tak bisa disama ratakan
Keinginan dan tujuan insan berbeda
Tak mungkin menyatukan rasa
Tak mungkin menyatukan asa
Mojokerto, 23 Agustus 2015

AKU TIDAK MENGENALMU



Dauri seorang yang saleh
Ia bergaul akrab dengan Allah
Seorang pelayan altar yang setia
Selalu baca kitab suci, doa tiap hari

Di pagi yang cerah seusai berdoa, seorang janda tuna karya mengetuk pintunya
“Nak, berilah saya pinjaman untuk beli beras sebab anakku belum makan.”
Dengan santun ia menjawab
“Maaf ibu, uang saya sudah tidak ada yang tersisa. Sudah saya belanjakan untuk makanan sehari-hari. Ini tinggal perpuluhan yang tak boleh dilanggar dan harus dipersembahkan untuk Tuhan. Saya berdoa supaya Tuhan memberkati Ibu dan anak ibu.”

Hari berlalu, tanah masih basah karena hujan semalam
Dauri mengenakan pakaian rapi hendak keluar dari rumah
Bapak Rtpun datang
“Pak Dauri, karena hujan badai tadi malam rumah pak Dani roboh. Hari ini kita akan bergotong royong membersihkan reruntuhannya.”
Dauri mengunci pintu dari luar
“Pak RT, sampaikan kepada yang lain. Saya hari ini ada pelayanan, sudah latihan dan tidak boleh terlambat. Sesudah ibadah kami ada rapat, siangnya doa pelayan altar. Jadi saya tidak bisa membantu, namun saya berjanji akan mendoakan pak Dani.”

Minggu berlalu, malam telah larut
Handphone berbunyi
Dauri segera meluncur ke sebuah rumah yang cukup jauh
Seorang bocah kesurupan, Dauri menumpangkan tangan
“Dalam nama Yesus.”
Setanpun pergi

Bulan berlalu,
Dauri menyembuhkan orang sakit Dalam nama Yesus

Tahun berlalu,
Dauri meninggalkan dunia ini
Arwahnya bertemu Tuhan di gerbang sorga
Tuhan berkata
“Maaf, Aku tidak mengenalmu.”
Mojokerto, 7 Agustus 2015