Senin, 13 April 2026

Di Antara Tawa dan Sakral


Di sebuah ruang, 

berkumpul jiwa-jiwa sederhana,

tak banyak, tak ramai,

namun hangatnya cukup untuk membuat dunia terasa utuh.


Dulu, nada-nada lahir tanpa aturan,

mengalir seperti angin sore,

aku datang membawa jemari yang belum terlatih,

dan hati yang hanya ingin ikut bernyanyi.


Kami bermain seadanya,

senar kadang fals, ritme kadang tersesat,

namun tawa selalu menemukan jalannya pulang,

dan damai tak pernah bertanya tentang kesempurnaan.


Waktu berjalan pelan, lalu bergegas,

wajah-wajah baru berdatangan,

alat-alat semakin canggih, suara semakin megah,

standar pun naik tanpa terasa.


Ruang itu berubah,

bukan lagi sekadar tempat berkumpul,

melainkan panggung yang dijaga kesakralannya,

setiap nada ditimbang, setiap langkah diatur.


Aku masih di sana,

namun tak lagi sebebas dulu,

jemariku kini ragu sebelum menyentuh nada,

seolah harus meminta izin pada kesempurnaan.


Dan di antara semua itu,

ada langkah kecil berlari tanpa beban,

anakku.


Ia tak tahu tentang aturan,

tak mengerti tentang batas tak kasat mata,

ia hanya melihat ruang luas

dan ingin menjadikannya taman bermain.


Tawanya memantul di antara dinding,

langkahnya menyentuh tempat yang kini dijaga,

dan aku… terdiam di antara dua dunia

antara kebebasan yang pernah kumiliki

dan kesakralan yang kini mengikatku.


Apakah yang hilang itu kesalahan?

Ataukah hanya kenangan yang enggan pergi?


Di ujung lagu yang tak lagi sama,

aku merindukan satu hal sederhana:

bermain tanpa takut,

dan membiarkan tawa kecil itu

menjadi bagian dari harmoni.



Mojokerto, 14 April 26

Jumat, 20 Maret 2026

Ananda 3

 Ulangan 28:4  Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. 


Ayat tersebut tertulis pada roti perjamuan kudus 1 Maret 2026. 17 Maret 2026  terdapat garis 2 garis pada testpack, garis kedua samar dan dipastikan lagi hari berikutnya. 


Setelah Mudji Gusti Yisrael yang langsung bertugas menjadi musisi Sorga 14 Februari 2022.

Mudji Sios Shalom yang bertugas menjadi damai di bumi sejak 22 Februari 2023.

Siapakah Mudji selanjutnya?

Kamis, 19 Juni 2025

Setiap orang memiliki kisah.

Pak Agus, kawanku bekerja masa lalunya ialah sales jamu. Sama seperti sales lainnya tentu saja ada target penjualan dan ketepatan tagihan. Untuk mendongkrak penjualan ia membeli kardus jamu bekasnya dengan memotong komisinya sendiri. Untuk apa kardusnya? Apakah di daur ulang? Saat itu belum terpikirkan untuk ditampung dijual kiloan, ia membeli per biji untuk dibakar. Tujuannya agar toko-toko semangat menawarkan jamunya. Bagaimana tagihan, jika lewat jatuh tempo komisi dipotong. Akahirnya ia membuat perjanjian dengan customer. Jika dalam setahun selalu membayar tagihan tepat waktu maka akan ada black bonus, lagi-lagi dengan mengambil sekian persen dari komisinya sendiri. Jika telat sekali saja, maka black bonus hilang. Setelah 12 tahun jadi sales, kini ia memilih jadi sopir. Profesi inilah yang mempertemukan kami, kini ia mengantarkanku ke Bandara.

Dari Juanda kami bertiga, aku pak Deni Procurement customer kami dan pak Herry Marketing tempatku bekerja. Kami sedang dalam perjalan dinas menangani komplain di Dumai. Sampai di Pekan Baru kami dijemput pak Heru yang sempat mengeyam kuliah di Semarang. Kami berempat memiliki banyak cerita masing-masing. Tentang tanah Riau yang kaya minyak, banyangkan minyak bumi di bawah minyak kelapa sawit di atas. Tapi kondisi kota-kotanya terlihat tua, jauh dibandingkan tanah jawa. Kalau diperkirakan secara visual kakayaan alam yang ada, harusnya Riau bisa semegah Dubai. Namun ke mana kekayaan itu pergi, semua orang yang kami temui baik para sopir, baik orang-orang di pabrik yang kami tinjau memiliki pandangan dan kesimpulan yang sama. Korupsi.

Pak Deny masih harus menyelesaikan pekejaannya di Dumai, tinggal kami berdua kembali ke Pekan baru. Melintasi tol ditengah kebun sawit. Yah.. kenangan hidupku tak lepas dari kelapa sawit, sejak kelas 3 SD ikut ayah transmigrasi ke Sanggau 1993, bekerja di Labuhan Batu 2010 semua sudah kutulis di https://pantaugambut.id/kabar/tiga-korban-peralihan-fungsi-lahan-gambut-masyarakat-adat-kelompok-pendatang-dan-keanekaragaman. Kini memori itu membakar jiwaku. Semua karena keputusan, jika ayah tidak memutuskan kembali ke jawa, jika aku tidak memutuskan kembali ke jawa. Mungkin aku masih berada ditengah perkebunan kelapa sawit untuk memperkaya penguasa yang katanya korup. Bang Zul, sopir yang mengantarkan kami memiliki masalah yang sama denganku, istri kami keguguran anak pertama dan kini kami dikaruniai anak kedua yang merupakan anugrah terindah bagi setiap keluarga. Tapi anak pak Herry paling istimewa, tiga bulan sebelum menikah calon istrinya harus oprasi pengangkatan kista, sehingga indung telurnya hanya setengah. Dan sebelum oprasi pihak keluarga serta calon suami harus menandatangani surat pernyataan bahwa 99% tidak akan bisa punya anak. Sejak menikah full berdoa dan terapi ke dokter, dengan penuh perjuangan akhirnya lahirlah anak pemberian Tuhan, anak yang kemungkinannya 1%. Setelah punya anak, indung terlur yang tinggal satu harus diangkat pula. Ada banyak kawan-kawanku yang masih berjuang untuk mendapatkan keturunan, bagi yang memiliki kesuburan tolinglah jangan sia-siakan anakmu, jangan terlantarkan mereka. Bagiku anak adalah 50% diriku secara jasmani.

Kami sempat makan malam dengan adik ipar pak Hery, yang menyuplai produknya ke badan milih pemerintah. Dan betapa sulitnya menagih ke pemerintah. Aku melihat banyak orang yang lebih susah dalam pekerjaannya, terlebih buruh-buruh borongan yang sempat kami temui, tanpa pengaman, tanpa peralatan yang memadai, hanya mengandalkan otot untuk menghidupi anak dan istrinya. Di pabrik aku dan pak Herry tidak pernah mengobrol, hanya menyapa dan pertemuan kami hanya di ruang meeting kalau ada audit customer. Tapi justru ketika kami di tanah Sumatra punya kesempatan bercerita bagaimana ia yang merasa tidak mampu melakukan tugas yang sangat berat namun dengan mengandalkan Tuhan semua bisa dilalui. Dengan kolaborasi doa dan tindakan semua akan bisa dilalui. Menjadi berkat bagi orang lain dimulai dari keluarga, kedua rekan-rekan sekerja. Dengan melancarkan pekerjaan teman-teman, maka kita akan menjadi saluran berkat bagi keluarga mereka. Yang tak kalah penting adalah suport doa anak istri, bahkan anak balita ketika mendoakan ayahnya dengan keterbatasan bahasa sangat pasti oleh Tuhan. Apalagi ditambah doa ibu bagi yang masih memiliki ibu tentunya.

Kami mendengar keluhan sopir taxi online yang dibatasi orderannya oleh aplikasi. Jadi setelah mengantar penumpang, orderan berikutnya dijeda hampir satu setengah jam. Ia juga mengeluhkan tingginya korupsi pejabat daerahnya. Setelah makan siang kami naik taxi online ke Bandara. Sopirnya sudah tua, energik dengan lagu Metalica di LCD mobilnya, bahkan menawari kami karoke. Ditengah keluhan banyak warga, kakek ini tanpak bahagia. Ketika kami tanya usia, ia minta kami menebak. "65" kataku, "hampir" jawabnya, "63, kenapa apakah aku nyetirnya sudah mulai goyah?" Katanya. "Selera musiknya, rocker 80-an." Kataku,  kamipun bicara tentang musik.

Kelapa sawit adalah saksi perjalanan hidupku
Sanggau, 1993
Labuhan Batu, 2010
Dumai, 2025
Hidup adalah perjalanan pulang kepada Pencipta
Kerjakalanlah segala sesuatu seperti untuk Tuhan
Dalam kelamahanku aku melihat Tuhan yg kuat dan perkasa.

Minggu, 07 Juli 2024

Dangdut merusak roh lagu?

Pada dasarnya saya menyukai musik dangdut, dan sering nonton konser dangdut. Namun belum punya keinginan menjadi Musisi dangdut. 

Kenapa?

Pertama jika lagu dangdut menjadi terkenal maka nama pencipta dan penyanyi aslinya akan tengggelam, orang lebih mengenal si tukang cover.

Kedua lagu sedih dinyanyikan dengan gembira, contoh lagu yang berjudul : Ayah Kukirimkan do’a. Liriknya dukacita tetapi versi dangdut dibawakan dengan suka cita.

Ketiga, lagu milik Paguyuban Kawulo Alit Condong Catur yang berjudul : Hati Kecil Kaum Jalanan. Dalam versi dangdut bukan hanya suasananya yang dirubah, bahkan liriknya diubah sehingga mengubah makna dan roh lagu.

Berikut perbandingan versi Asli vs Dangdut 


Versi Asli  VS Dangdut yang ada dalam kurung

A aa aa aa

(Ha....ha....ha....ha....)


Sadar pada diri yang kian rapuh 

(Besar dari music yang kita buat)

Kadang kutermenung di malam mencekam

(Kadang ku termenung dimalam mencekam)

Sadar pada diri yang makin tertinggal

(Sadar pada diriku yang makin kuat)

Untuk melangkah meraih masa depan

(untuk melangkah meraih masa depan)


Reff

Kini  sesal yang tertinggal

(kini hatiku yg terdiam)

Sementara waktu terus berlalu

(sementara waktu terus berlalu)

Waktuku kini sia-sia

(waktu ku tak akan sia – sia)

Melangkah bersama dosa

(melangkah bersama – sama)

Melangkah bersama dosa

(melangkah bersama – sama)



Bait 2

Bagaikan melihat bunga-bunga yang layu

(bagaikan melihat bunga – bunga yang layu)

Kering dihantam kemarau

(kering di hantam kemarau)

Yang mencoba bangkit dari kematian

(Jangan kau coba bangkit dari mimpimu)

Tuk memulai hidup yang baru

(Tuk memulai asa yang baru)

Reff

Hati kecil kaum jalanan

(Hati kecil kaum seniman)

Apakah kita sudahi perjalanan ini

(kapankah kita akan dapat jawaban)

Kami butuh jawaban

(Kami butuh jawaban)

Dari Sang penguasa

(dari sang penguasa)

Dari Sang penguasa

(dari sang penguasa)


Melangkah bersama dosa

(……)

Hati kecil kaum jalanan 8X

(Hati kecil kaum jalanan)

(Hati kecil kaum pengamen)

(Hati kecil kaum seniman)



Dari perbandingan lirik diatas sudah jelas dangdut mengubah makna lagu, sehingga bisa dikatakan merubah roh lagu. Bagaimana menurut kalian?


Sumber : https://www.chordtela.com/2020/09/hati-kecil-kaum-jalanan.html

Sumber : https://www.smule.com/song/ssar_tok_il-ngamen-10-eny-sagita-karaoke-lyrics/7309378_7309378/arrangem

Membela keluarga yang salah atau meninggalkan keluarga demi membela kebenaran.

Dalam Kisah Ramayana, Rahwana menculik Shinta istrinya Rama. Perbuatan Rahwana jelas salah. Sehingga terjadilah perang, Dimana pasukan Rama menyerang Alengka yaitu negara yang dipimpin oleh Rahwana. Rahwana memiliki banyak panglima perang, dua diantaranya adalah adik kandungnya sendiri yaitu Kumbakara dan Wibisana. Kedua adiknya sepakat perbuatan Kakaknya salah, namun mereka mengambil sikap yang berbeda.

Wibisana memihak Rama dan melawan Rahwana karena dia memihak pada kebenaran.

Kumbarana tetap memihak pada Rahwana, dia tahu kakaknya salah tetapi Kumbarna melawan Rama karena negaranya diserang.

Jika kamu menjadi adik Rahwana sikap mana yang kamu pilih?

Meninggalkan keluarga demi kebenaran, atau membela keluarga meskipun salah?

Kamis, 06 Juni 2024

Tarif Bus Mojokerto Jogja Magelang Kereta Api Jogja Bandung

 Minggu, 3 Juni 2024, pukul 11.00 parkir sepeda motor di penitipan sekitar terminal Kertajaya Mojokerto. Naik bus Sugeng Rahayu sekitar pukul 11.15 ke terminal Giwangan Rp. 91.000; Kita tidak biss naik bus patas, karena dari Surabaya langsung tol tidak mampir Mojokerto, demikian pula sebaliknya. Sampai di Giwiangan sekitar 18.30, naik Eka jurusan Banjarnegara, via Magelang, Temanggung, Wonosobo. Tarif Jogja Magelang Rp.30.000; dapat air mineral 600 ml. Sampai terminal ke rumah, naik ojek Rp.10.000; Karena malam sudah tidak ada angkutan kota.

Senin, 4 Juni 2024, pukul 09.15 ke Stasiun Tugu diantar teman, atau bisa pakai transportasi lainnya. Pukul 11.20 kereta api Malabar Rp.225.000 kelas Premium. Sampai di Bandung pukul 18.59 ke hotel naik grab car, ada 2 jenis yakni grab car stasiun yakni di dalam. Namun saya memilih jalan sebentar keluar, dapat harga Rp. 17.000; ke jalan Pasir Kaliki, berjarak 1 km.

Pukul 19.00 dari Bandung, kereta Logawa kelas Premium Rp.250.000, sampai stasiun Tugu Jogja pukul 02.01 dijemput kawan lagi.

Selasa, 5 Juni 2024, jam 16.00 naik bus Magelang Jogja Rp.25.000 tanpa air mineral. Dari Jogja ke Mojokerto naik Mira Rp.91.000, bayar parkir Rp.12.000

Kamis, 13 April 2023

Nama adalah do’a

 


Anak pertama kami Mudji Gusti Yisrael, kami berharap dia Memuji Tuhan sang pencipta alam semesta. Dan doa itu langsung dijawab saat usia kandungan 13 minggu yakni 14 Februari 2022, Gusti sudah dipanggil Tuhan melakukan tugasnya yakni Memuji Tuhan di Sorga bersama para malaikat. 

Anak kedua kami Mudji Sios Shalom, kami berharap dia Memuji Tuhan dan menjadi damai dimanapun dia berada, selalu dikasihi Tuhan dan manusia.

Senin, 05 Desember 2022

Kunjungan Ananda

 Selasa Legi, 6 Desember 2022. Kawanku datang bersama istrinya. Seorang bocah lekaki gendut, berkulit bersih nampak lincah bercanda tawa denganku, kawanku juga mertuaku. Bocah itu tampak bahagia. 


Istriku penasaran, "Kamu siapa?"

Sang bocah, "Aku anak ibu."

Istriku, "Lho, aku kan belum melahirkan."

Sang bocah, "Aku R."


Istriku tersentak, bangun dari tidurnya dan meneteskan air mata.  Kamipun berdiskusi sejenak, kalau dia anak kami, kuberi nama Mudji Gusti Yisrael. Jadi inisialnya adalah G, bukan R. Secara kulit dan gendutnya mirip aku. Usianya sekitar 4 bulan dengan perkiraan lahir Agustus, kira-kira masih belajar tengkurap. Jika dihitung sejak ia gugur 14 Februari 2022, berarti 8 bulan, belum juga jalan dan bicara. Namun anak ini sudah berlari-larian dan bercanda. Secara kejawen, seorang bayi yang meninggal rohnya akan tetap bertumbuh sesuai umurnya. Secara Kristen, rohnya bertumbuh di Firdaus, bersama orang-orang kudus. Jadi siapakah dia?

Kalaupun anak kami dia bahagia kok.

Kalaupun bukan kami yakin, anak kami sedang bermain-main di Firdaus bersama kakeknya

Kamis, 17 November 2022

Bukan tentang Salah Benar

  Sunandar tampak suntuk, “Toko Sabalila sudah 2 bulan tidak mengambil eternit dari kita Wil.” Ia bicara setelah meletakkan cangkir kopi yang baru saja diteguknya.

“Pantas saja omsetmu turun.” Jawab Wili, “biasanya mereka memesan dari kita 200-250 lembar. Kalau target kita 10.000 artinya hampir 25%  turun Ndar.”

“Ya, itulah yang terjadi Wil. Padahal dulu saat area Jawa Timur kamu pegang Toko Sabalila pembeliannya bagus.”

“Kira-kira apa alasannya?”

“Barangnya masih banyak.”

Wili berfikir sejenak, “Besok kita menghadap boss, nanti aku ikut kamu ke Banyuwangi.”

“Tapi kan wilayahmu Jawa Tengah, apa tidak masalah.”

“Bukankah dulu aku pernah pegang Jawa Timur, pastilah Tuan Abdulah masih mengenalku.”

Dua hari kemudian mereka ke ujung timur Pulau Jawa. Tuan Abdulah menyambut mereka dengan ramah, kopi, kacang rebus, singkong goreng dan pisang goreng menemani obrolan mereka.

“Tuan Abdulah, bagaimana penjualan bulan ini. Apakah lancar?” Setelah berbasa basi Wili langsung ke pokok permasalahan.

“Maaf Tuan Wili dan Tuan Sunandar, barangnya masih banyak. Jadi kami belum pesan lagi. Mungkin bulan depan.”

Wili berfikir sejenak, jawaban yang diperoleh sama persis dengan apa yang diceritakan Sunandar. Orangnya ramah, baik hati, jadi apa kesalahan kami?

“Maaf Tuan Abdulah, kami ini masih muda, masih butuh banyak belajar. Jika tuan berkenan, bolehlah tuan mengajari kami yang kurang berilmu ini.”

Tuan Abdulah memandang Wili beberapa saat. “Baiklah kalian ikut saya.”

Mereka bertigapun ke gudang, dilihatnya beberapa tumpukan eternit 50x50 dan ada yang cacat. “Begini tuan, ini ada kerusakan,  kami meminta ganti ke perusahanan kalian namun tidak diganti.” Tuan Abdulah menjelaskan dengan wajah kecewa.

Wilipun memperhatikan sekitarnya, dilihatnya martil di atas, dan cacatnya adalah bekas martil. Abdulah ini orang jujur pikir Wili, pastilah ulah tukang yang membohongi Abdulah. Secara dokumen memang bukan kesalahan perusahaan. Dari pabrik di Surabaya, dikirim ke expedisi cek listnya lengkap tidak ada yang rusak. Dari surat jalan expedisi diterima toko, semua barang OK. Artinya kerusakan ada di toko. Namun Abdulah tidak ikut control. 

“Baiklah tuan Abdulah, kerusakan akan kami ganti.”

Sontak Abdulah terkejut, “Bukankah secara perusahan tidak bisa?”

“Memang secara prosedur tidak bisa Tuan, tapi kali ini akan saya ganti. Hanya saya ada permintaan tuan.”

“Apa itu tuan Wili?”

“Kiriman selanjutnya, jika Tuan Abdulah memesan lagi mohon luangkan waktu untuk ikut mengecek sendiri barang yang datang. Agar kita tahu kerusakannya di expedisi atau dari pabrik kami.”

“Ya tuan, ya tuan, ya tuan.” Entah apa yang dipikirkan tuan Abdulah sampai mengatakan ya hingga tiga kali. Mungkin ia sadar kalau kesalahan ada pada pihak karyawannya.

Sunandar jelas tidak terima dengan keputusan Wili, namun Wili memastikan dia yang akan menanggung ke bosnya. Sesampainya di Surabaya, sudah pasti Bos marah besar. Karena jelas melanggar prosedur.

“Biar saya jelaskan dulu Bos.” Kata Wili tenang.

“Toko Sabalila order ke kita rata-rata 200 lembar perbulan, dalam 3 bulan mereka tidak ambil dari kita berarti kita sudah kehilangan pembeli 600 lembar. Yang rusak itu kira-kira 5-6 lembar, hanya 1%.” Lanjut Wili

“Tetapi tidak bisa seperti itu Wil, secara system penerimaan sudah OK. Dan kamu telah menemukan sendiri bukan, bahwa kemungkinan keteledoran karyawannya.”

“Benar bos, namun Tuan Abdulah ini orang jujur. Dan saya sudah memastikan kiriman selanjutnya akan control sendiri. Dan beliau mengiyakan bahkan sampai 3x.”

“Tapi, tidak bisa begitu.”

“Tenang bos, jika perlu potong gaji saya. Untuk mengganti kerusakan tersebut. Namun kedepan kita masih bisa kerjasama dengan Tuan Abdullah. Pabrik Eternit bukan hanya kita saja, jika sampai pabrik lain jualan ke Sabalila maka kemungkinan kita jualan ke sana nol”

Bos berfikir sejenak. “Benar juga idemu. Baiklah kita ganti.”

Bulan berganti bulan, penjualan baik wilayah Sunandar maupun Wili lancar. Wili mendapat apresiasi sebuah sepeda motor. Tahunpun berlalu, hingga tulisan ini dibuat Tandiyo Willy memiliki sebuah pabrik Daur Ulang Plastik Pradha Karya Perkasa. Sedangkan Sunandar menjual bubur ayam. Persahabatan mereka masih terjalin hingga saat ini. 


Senin, 12 September 2022

Anak Kedua

 Anakku sayang kakakmu telah ke Sorga 

Bersama kakek nyanyikan kidung pujian

Di bumi ini  kupetikan dawai gitar 

Mari kita nyanyikan kidung yang sama 


Ha  a  haleluya 

Ha  ha  leluya

Ha  a  haleluya 

Ha  ha  leluya


Anakku sayang kelak kau akan dewasa

Jadilah apa saja yang engkau citakan 

Bawalah damai dimana engkau berada

Dan ingatlah kidung yang kita nyanyikan


Ha  a  haleluya 

Ha  ha  leluya

Ha  a  haleluya 

Ha  ha  leluya

Ha  a  haleluya 

Ha  ha  leluya

Ha  a  haleluya 

Ha  ha  leluya


Senin, 06 Juni 2022

#ceritamudji #11 - #13

 

#ceritamudji #11

Setelah melewati beberapa tanjakan dan turunan yang menikung, akhirnya Jaya dan Dani sampai juga ke sebuah bendungan di kaki gunung. Mereka berhenti, Jaya membuka  hp memastikan lagi, setelah yakin barulah memarkirkan sepeda motornya.  

"Benar ini tempatnya mas Jaya."

"Berdasarkan koordinat yang ditulis kakekmu, titiknya ada di sana Dani." Jaya menunjuk area bendungan agak ke tengah. "Sebaiknya kita sarapan dulu."

Merekapun mampir ke sebuah warung, Jaya memesan nasi rames, sedangkan Dani nasi gudeg krecek. Ditemani teh hangat, tahu susur tempe goreng tepung dan saren goreng.

Usai sarapan, mereka memesan perahu yang memang untuk pariwisata. Namun mereka tidak berkeliling, melainkan langsung menuju titik koordinat. Perahu melaju pelan, sambil menyesuaikan google map di hp Jaya. Setelah sampai, mereka berhenti. Dani memanjatkan doa, kemudian dari tasnya ia mengeluarkan bungkusan kecil, serta botol kecil berisi air.  Setelah dibuka bungkusan tersebut adalah segenggam tanah. Dani menaburkan tanah dan menuangkan air dalam botol.
Jaya dan tukang perahu hanya mengamati saja apa yang dilakukan Dani.

#ceritamudji  #12

Untuk beberapa waktu mereka bertiga hanya diam. Tak ada yang memulai pembicaraan. Dari tepi meluncur perahu lain, tidak membawa wisatawan keliling bendungan, melainkan hanya satu orang gemuk saja menuju ke arah mereka.

Kedua perahu itupun merapat, si gendut mengamati Dani sebelum bicara dengan lantang "Gunung Merapi mengirimkan pasir ke Kali Putih dan Kali Krasak."

"Kali Elo dan Progo bersatu di Segara Kidul." Sahut Dani. Dan tanpa aba-aba merekapun saling senyum.

"Pak Lik Karsa, biarkan mereka aku yang mengantar ke tepi." Kata Si Gendut ke tukang perahu yang ditumpangi Jaya dan Dani.

"Baik Den. Kata pak Karsa."

Setelah Jaya membayar sewa perahu ke pak Karsa sesuai kesepakatan mereka berdua pindah ke perahu si gendut. Pak Karsapun menepi, mencari wisatawan lain.

"Namaku Atma, cucu Eyang Darsudi." Si gendut memperkenalkan diri. "Kamu pasti cucu Eyang Darsono bukan?"

"Benar, namaku Dani." Dani menjabat tangan Atma. "Dan mas Jaya ini yang mengantarku ke sini."

"Jaya." Jaya menjabat tangan Atma.

"Mas Jaya disuruh Eyang Darsu bukan?"

"Mas Atma kenal Eyang Darsu? Dan bagaimana bisa tahu saya?"

"Suatu sore di sebuah warung, saya melihat mas Jaya dengan temannya yang agak pendek berkacamata ngobrol dengan Eyang Darsu. Kebetulan saya jadi tukang parkir waktu itu."

"Lha mas ini sebenarnya profesinya apa? Parkir, sekarang jadi tukang perahu. Sedang pak Karsa tadi memanggil Den, berarti Raden yang artinya bangsawan."

"Bukan, saya hanya orang biasa. Lik Karsa itu kalau menghormati orang panggil Den. Apalagi sama wisatawan."

Jaya hanya mengangguk saja, walau hatinya masih banyak pertanyaan. Namun pikirnya urusan Dani lebih penting.

#ceritamudji #13

Merekapun menepi. Perahu diserahkan ke orang lain. Atma mengambil sepeda motor dan diikuti oleh Jaya dan Dani.  Dua motor melaju ke arah dari mana Jaya datang tadi, udara sangat sejuk.  Setelah melewati beberapa perkampungan dan beberapa perkebunan, sampailah mereka ke daerah yang cukup ramai. Pedadang sayur ada di kiri kanan jalan, antara mobil, sepeda motor, pejalan kaki, becak begitu padat merayap. Setelah agak longgar mereka belok ke kiri, ke kiri lagi menuju perkampungan yang cukup sempit.   Atma memarkirkan sepeda motornya didepan  sebuah rumah, Jaya mengikutinya.

"Silakan masuk." Kata Atma.

Seorang Wanita paruh baya menyambut mereka. "Silakan duduk nak. Ayah Atma sebentar lagi pulang."

Merekapun duduk, dibuatkan teh hangat, pisang goreng, potil, getuk goreng.  Sesaat kemudian seorang pria datang.

"Mana anaknya Darmo?" Dia begitu bahagia.

"Saya pak, Dani." Dani menjabat tangan ayah Atma. Kemudian Jaya juga memperkenalkan diri.

"Tak kusangka hari ini terjadi juga." Kata Ayah Atma. "Aku hampir putus asa, namun Sang Pencipta masih mengijinkan keturunan kami bertemu. Tentu Darmo banyak bercerita tentang kami."

"Lebih tepatnya Kakek yang bercerita, namun tidak rinci." Jawab Dani.

"Ya ya." Ayah Atma menegguk teh. "Ayahku dan Kakekku adalah kakak beradik, jadi kamu memanggilku pak De. Mereka memilih jalan masing-masih. Ayahku tidak mau ikut bedol desa, resikonya. Kami sempat tidur di emperan toko. Aku membantu ibu memulung kardus-kardus bekas. Sedangkan ayah jadi kuli kasar di pasar yang baru saja kalian lewati. Tahun-tahun berlalu, dari emperan ke kontrakan, dari kontrakan ke kontrakan lain. Akhirnya rumah ini bisa berdiri. Namun tak lama kemudian ayah pergi meninggalkan kami untuk selamanya." Ayah Atma menghela nafas sejenak.

"Bendungan yang kalian kunjungi, adalah desa kami dulu.  Kamu pasti sudah tahu ceritanya Dani. Bendungan itu dibangun untuk kebutuhan negara, pembangkit listrik tenaga kincir air. Kini ramai menjadi tempat Pariwisata. Namun sayang yang menikmati adalah warga pendatang. Saat aku masih muda, aku masih sering ke sana guna menunggu ayahmu Dani. Sekarang, janji itu ditepati oleh kalian generasi ketiga." Ayah Atma memandang anaknya dan keponakannya yang baru datang.

"Nak Jaya, terimakasih telah membantu." Lanjut Ayah Atma.

"Iya pak. Sebenarnya kami berdua, namun teman kami ada urusan lain. Dan sayapun mohon pamit, lain kali saya akan mampir ke sini. Saya juga sudah menyimpan nomer Atma" Kata Jaya.

"Makan siang dulu nak. Baru boleh pulang" kata Ibu Atma.

"Baik Bu." Sahut Jaya.

Siang itu mereka makan sop senerek, dengan tempe bawang uyah, sambel terasi. Jaya pun pamit.

#ceritamudji #6 - #10

 

#ceritamudji #6
~
Dani mengeluarkan secarik kertas yang tersimpan rapi dari dalam tasnya. Kertas tua yang sudah mulai menguning.

"Ini peninggalan Kakekku, kalian pasti memahaminya." Dani menyodorkan ke Jaya.

Jaya menerima kertas tersebut, Bejo mendekat. Mereka membuka dan memperhatikan apa yang terlulis.

Sesaat kemudian, mereka bertiga duduk santai di bebatuan. Sambil mendengarkan Dani bercerita panjang lebar. Jaya mengambil hp, memotret kertas Dani sebelum mengembalikan ke kepemiliknya.

#ceritamudji  #7
~
"Ayahku masih SD ketika peristiwa itu terjadi." Dani berusaha mengingat cerita sang ayah, sebab bukan dia yang mengalaminya. "Namanya Darmo, Kakekku Darsono.

Pak Darsono pulang agak larut malam, Darmo yang masih kelas 2 SD belum juga tidur dan ikut mendengarkan pembicaraan orang tua mereka.

"Bagaiamana hasil rapatnya pak?" Tanya bu Darsono.

"Keputusannya, kita bedol desa." Pak Darsono menjelaskan. "Satu desa akan transmigrasi ke luar pulau Jawa. Di sana masing-masing keluarga akan memperoleh rumah dengan tanah setengah hektar, dalam kawasan permukiman dan lahan pertanian dua hektar. Semuanya tetap sama baik nama desa, nama dusun, juga RT dan RW warganya sama persis. Hanya kecamatan dan kabupaten ikut yang di sana."

"Apa tidak ada pilihan lain pak?" Tanya Bu Darsono, "Bagaimana kalau kita pindah di desa lain, atau merantau ke kota saja. Asalkan tidak meninggalkan tanah Jawa."

Pak Darsono termenung sejenak. "Kita tidak memiliki uang untuk membeli tanah di desa lain, kalau ke kota dengan ijazah SD aku tak yakin bisa bertahan hidup, kakekku, buyutku, canggahku mereka petani. Dan pemerintah menjanjikan tanah yang lebih luas dari tanah kita sekarang."

"Ayah, boleh Darmo bertanya?" Darmo berusaha memahami permbicaraan orang tuannya.

"Tanyakan saja le." Sahut ayahnya.

"Kenapa warga desa harus pindah keluar jawa ayah."

"Desa kita akan dibangun sebuah bendungan besar sebagai pembangkit listrik, juga pengairan sawah. Namun di sini padat penduduk, sedangkan di luar jawa masih banyak tanah yang belum diolah. Sehingga pemerintah punya tujuan membangun  pertanian di pulau lain."

"Jadi, rumah kita ini akan ditenggelamkan?"

#ceritamudji  #8
~
Hari-hari menjadi sibuk, mulai persiapan, penyuluhan kader pertanian, kader kesehatan. Hingga hari yang ditentukan tiba, Darmo hanya bermain-main dengan rekan sebaya, mereka tahu akan pergi meninggalkan tanah leluhur namun tak tahu kegelisahan hati orang tua mereka. Ada yang membawa segenggam tanah dan sebotol air sumur, yang kelak akan di tabur dan disiramkan di tanah yang baru.

Rombongan berangkat dengan menggunakan kapal perang menyebrangi lautan, sambil diiringi sebuah lagu :

Deru suara mesin kapal
Diiringi generciknya ombak
Di tengah samudra nan amat luas
Iringi kepergian ratusan jiwa

Sebuah pulau yang masih sepi
Sambut kedatangan mereka
Hutan terbentang sangat menantang
Untuk dijadikan sebuah desa

Transmigran itulah tugasmu
Sibak belukar bangunlah desamu
Transmigran tingkatkan hisupmu
Demi nasib anak dan cucumu


#ceritamudji  #9
~
Hari berhanti bulan, bulan berganti tahun, tahun berganti generasi. Generasi pak Darsono telah banyak yang pulang menghadap sang pencipta, Darmo tak pernah lagi menginjak tanah jawa. Masa kecilnya tinggal kenangan, dia hanya bisa menceritakan kenangan tanah jawa ke pada Dani putranya yang kini beranjak dewasa."

"Tunggu, sepetinya aku kenal lagu yang kamu nayanyikan Dani." Kata Bejo. "Yang intronya mi mi fa mi re mi."

"MST." Sahut Jaya.

"Ya benar. Kalian tahu juga? Bukankah itu lagu lama" Tanya Dani.

"Saat MST meninggal lagu tersebut dinyanyikan oleh anak-anaknya." Jawab Jaya.

"Apakah anak-anaknya juga jadi musisi?"

"Tidak semuanya, anak pertama jadi Bassist dan penulis, anak kedua jadi pelukis hebat serta punya podcast horor yang terkenal yaitu CeriT, anak ketiga jadi ahli dibidang bahasa-bahasa kitab kuno, sedangkan yang bungsu adalah pendiri  dan pemilik MTO MovieTown."

#ceritamudji  #10
~
Matahari agak condong ke barat saat tiga pemuda melangkahkan kaki. Mereka sudah sepakat mengantarkan Dani ke tanah leluhurnya. Sebuah jalan setapak berada di pinggir hutan lebat.

"Dani, kenapa kalian tidak membuat jalan setapak yang menerobos hutan." Tanya Bejo. "Kalau kulihat di peta, desa kalian segaris dengan pelabuhan, kalau ada jalan menerobos hutan, maka kita akan menghemat setengah perjalanan."

"Sejak aku kecil tak ada yang boleh masuk hutan, kami harus mengambil jalan melingkar." Dani menerangkan. "Sebab disamping kita adalah hutan larangan."

#ceritamudji #1 - #5

 

#ceritamudji #1
~
Keringat yang menetes hampir saja masuk ke mata jika Jaya tak segera mengusap dengan lengannya. Raga sudah mulai lelah, namun tak ada keinginan untuk istitahat sejenak. Jalan terjal tak jadi rintangan yang cukup berarti, sementara rembulan terkadang tertutup mega. Mendadak Bejo berhenti, jari tunjuknya menunjuk ke kejauhan. Tanpa aba-aba kedua kalinya Jaya langsung menatap objek yang dituju. Nampak perkampungan tanpa aliran listrik, hanya mengandalkan lampu minyak. Sunyi, sepi, hanya terdengar binatang malam.

"Sepertinya itu yang dimaksud Eyang Daru." Kata Jaya setengah berbisik.

"Jika begitu ayo segera kita lanjutkan, lihatlah di depan jalan sudah mulai menurun. Jika perkiraanku tidak meleset, kita akan sampai ke sana saat fajar menyingsing." Bejo berkata dan langsung mengayunkan langkahnya.

Jaya hanya mengangguk, merekapun segera melanjutkan perjalanan. Benar saja, jalan bebatuan yang mereka pijak mulai menurun. Tak lama kemudian  mereka berhenti di sebuah tanah lapang.

"Bejo." Nafas Jaya agak terputus-putus. "Sebaiknya kita bermalam di sini. Sebelum matahari terbit baru kita lanjutkan. Setidaknya lebih sopan bertamu pada saat hari terang tanah."

"Benar juga usulmu Jaya, ternyata perkampungnnya sudah di depan mata, paling satu jam lagi sampai." Bejo menanggapi. Langsung mengeluarkan tali pramukan dan jas hujan ponco, sedangkan Jaya mencari beberapa potong kayu. Merekapun membuat bivak.

#ceritamudji #2
~
Tiga gadis berbaris rapi diantara delapan lelaki, mengenakan hem putih dan bawahan merah. Dan memang hanya ada mereka, sebab adik-adik kelas mereka diliburkan. Satu per satu memasuki ruang kelas, masing-masing duduk satu orang satu meja sesuai nomer ujian nasional.
Di luar kelas empat orang guru nampak cemas, bahkan salah seorang guru tampak berkeringat. Bukan karena matahari pagi yang belum begitu panas, namun dalam terngiang suara kepala dinas seakan menggema berulang di kepalanya.

"Tahun ini adalah kesempatan bagi SD kalian, jika tidak bisa meluluskan siswa 100% maka bukan hanya anda saya berhentikan jadi kepala sekolah namun sekolah itu akan kami tutup. Biarkan anak-anak sekolah ke ibu kota kecamatan."

Mendadak lamunannya sirna, digantikan seberkas senyum diwajahnya. Matanya jauh memandang ke arah ladang jagung. Tanpa disuruh ketiga guru yang lain mengarahkan pandangan yang sama, dan menghela nafas lega.

Dari kejauhan tampak dua pemuda berjalan menuju ke arah bangunan SD, mau dikatakan gedung juga tidak tepat. Jam menunjukan pukul 06:45 ketika kedua pemuda tadi melewati papan bertuliskan SD Wates Wetan.

#ceritamudji #3
~
"Terimakasih nak Jaya dan nak Bejo telah jauh-jauh datang ke mari mengantarkan soal-soal ujian nasional bagi SD di tempat kami." Seorang pria setengah baya duduk bersila sembari menikmati teh kental manis yang masih mengepul.

Jaya dan Bejo hanya mengangguk-angguk sebab mulut mereka sedang memproses nasi jagung, sambal terasi dengan lauk ikan asin, ditambah rebusan daun sing okkong.

"Memang sudah menjadi tugas kami sebagi kurir pak Kades." Jawab Bejo setelah mendorong makanannya dengan air putih ke tenggorokan menuju lambung. "Kami lihat tiang-tiang listrik itu sudah terpasang pak. Berarti tidak lama lagi akan ada listrik di tempat ini."

Sang Kepala Desa tersenyum, "Dahulu saya juga berfikir demikian."

"Dahulu? Maksudnya?" Jaya menyela.

"Ya dahulu kala ketika usiaku semuda kalian, Presiden kita masih Gus Dur. Tiang-tiang listrik itu di datangkan. Hati kami gembira, sekarang Ibu Kota Negara sudah mau pindah ke Kalimantan namun listriknya tidak pernah ada."

Bejo dan Jaya hanya bengong, saling berpandangan.

"Kalau SDnya pak?" Tanya Jaya.

"Dulu belum ada bangunan SD, kelasnya terpisah-pisah, ada yang di balai desa, ruang KUD dan beberapa rumah penduduk. Saat itu, kalau ujian nasional seperti ini kami harus menginduk ke kecamatan. Menginap seminggu di sana, membawa beras, ayam untuk bekal anak-anak dan guru makan. Empat tahun lalu bangunan SD sudah didirikan, setahun kemudian datanglah pak Darmo sebagai kepala sekolah dan tiga guru lain dari pemerintah. Akhirnya guru honorer yang sudah lama mengabdi diberhentikan."

#ceritamudji  #4
~
"Tiga guru, enam kelas. Bagaimana mengajarnya? Saya lihat ruang kelasnya juga cuma 3" Jaya penasaran.

"Kelas 1 dan 2 jam 07.00 sampai jam 09.50. Kelas 3 dan 4 bergantian masuk jam 10.00 sampai jam 14.00.  Kelas 5 jam 07.00 sampai 13.30. Kelas 6 kan sedikit, maka digunakanlah rumah dinas guru sebagai kelas. Masuk jam 07.00 pulang jam 13.30. yang mengajar ya mereka berempat. Termasuk kepala sekolah turun tangan mengajar."

"Rumah dinasnya sepertinya kecil, dan hanya ada 2 bukan?" Jaya penasaran.

"Benar sekali nak. Yang satu dipakai pak Hasan dan pak Ahmad, karena mereka masih bujang. Pak Darmo dan pak Heru dengan keluarganya. Masing-masing menempati rumah warga, yang dulu digunakan sebagai kelas."

"Tahun ini murid kelas 6 kebetulan 11 orang, tahun depan kalau mencapai 30-an apa muat rumah dinasnya pak?"

"Tahun depan jika kalian masih diberi tugas mengantar soal ujian, pasti tahu jawabanya. Sekarang sebaiknya kalian segera habiskan makanannya, maaf seadanya. Setelah itu istirahatlah. Kalian pasti lelah. Saya tinggal dulu ya." Pak Kades pamit.

"Baik pak." Sahut Bejo dan Jaya hampir bersamaan.

#ceritamudji #5
~
"Selamat jalan Kakak-kakak." Semua murid melambaikan tangan.

"Semangat ya ujiannya. Ini baru hari kedua, kalian pasti lulus semua." Bejo berkata sambil melambaikan tangan, diikuti oleh Jaya.

"Kami pamit dulu." Kata Jaya kepada Para guru dan para perangkat Desa.

Merekapun berjalan menjauhi perkampungan. Menyusuri jalan setapak diantara perkebunan warga. Setelah menaiki perbukitan, pepohonan mulai rindang.

"Siapa itu!" Bejo mendadak berteriak sambil membalikan badan.

Dari semak-semak muncul seorang pemuda, yang agak ketakutan.

"Dani?" Rupanya Jaya mengenali. "Kenapa mengikuti kami? Apa orang tuamu tahu? Bagaimana kalau kamu dicari?"

"Maaf kak. Saya ingin ikut kalian ke Jawa, boleh ya." Kata Dani. "Saya sudah pamit ke bapak saya. Tenang saja pasti mereka tidak mencari."

"Tidak-tidak." Jaya menentang. "Di Jawa mau cari siapa, ke mana, mau melakukan apa? Begini saja, kami antar kamu kembali lagi ke Desa."

Senin, 14 Februari 2022

ANAK PERTAMA (Bagian 2)

 Jum'at  17 Desember 2021.

Karena kerja shift malam maka tidur di siang hari. Istriku mendapat mimpi, antara sadar dan tidur. Ia bersama ibunya, rumah diketuk. Saat di cek ke depan  ada dua pria menggunakan pakaian serba hitam layaknya musisi. Mereka menurunkan peralatan musik, 1 set drum dan stand keyboard  2 susun serta banyak barang yang tidak bisa teridentifikasi.

"Lho apa ini?" Tanya istriku.

"Gereja kami tutup, biarkan perlatan ini ada di sini." Jawab salah seorang dari mereka.

"Tapi ini tempat tinggal, yang masih berantakan. Bukan gereja. Gereja ada di Mojosari."

"Kelak bangunan ini akan jadi gereja." Lanjut sang pria.

Istriku memperhatikan ternyata di depan rumah ada salib. Dalam hati, sejak kapan salib ini di depan padahal adanya di dalam rumah. 

Kemudian ada sebuah karya seni berupa 4 huruf. Salah satu dari pria itu berkata. " Bukankah ini dari Muntilan?"

"Mertuaku dari Jawa Tengah." Jawab istriku.

Kedua pria itu berkeliling, dan gerak-geriknya mencurigakan. 

"Jika ada barang hilang, atau terjadi sesuatu di tempat ini kalianlah yang akan kutuduh." Kata istriku penuh curiga.

"Tenang kami tidak berniat jahat."

Selanjutnya mereka dibuatkan kopi dan minum kopi. Ibu mertuakupun menggoreng ikan, dan mereka makan.





Senin, 14 Feb 2022 dini hari.

Kondisiku belum fit, beberapa hari ini kami pisah kamar karena aku positif covid 19. Saat buang air kecil, rupanya istriku pendarahan. Dengan segera setelah mengunyah sekerat roti kami pergi ke RS. Soekandar, Mojosari.

Sekitar pkl. 11:30-an Dokter kandungan datang, cek USG dan dipastikan lagi dengan USG Transvaginal. Jika berdasarkan usia kandungan, kehamilan 13 minggu harusnya janin sudah terbentuk organ-organnya. Namun ini baru berupa gumpalan, seperti usia 6 atau 7 minggu. Detak jantungnyapun tidak ada. Ya, anak pertama kami tidak berkembang. Dan keputusannya harus dikiret. 

Sedih pasti, terpukul tentu, tapi kami yakin Tuhan memiliki rencana lain yang lebih indah. Nama yg kami rancang, tetap akan menjadi nama kenangan bagi kami.


Mudji Gusti Yisrael   

ꦩꦸꦗꦶ     ꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶ   ישראל

Senin, 13 Desember 2021

ANAK PERTAMA (Bagian 1)

Akhir November 2021, istriku membaca Yesaya 44 dan langsung mengena dihatinya. Ia memikirkannya sepanjang hari dan saat bertemu denganku ia begitu bersuka cita. "Kita akan punya anak" katanya semangat. "Aku baru saja mendapatkan ayat, seolah Tuhan bicara denganku. Seorang anak laki-laki." 

Aku membaca dan merenung. "Bagus kataku" 

Iapun mengajukan nama, yg jelas gabungan dari namaku.  


Beberapa waktu sebelumnya kami sering membicarakan nama anak. Aku sendiri menyiapkan sekitar 5 nama anak laki-laki, 3 anak perempuan. Dasarnya tiga kata yakni Mudji nama jawa  nama Alkitab. Kerangkanya  Mudji J_ _  _  A_ _ _. Mengenai nama Mudji pernah kutulis, yakni cita-cita kakekku, yang mepertanyakan kenapa orang jawa tidak punya marga? Maka mendiang membuat namanya diabadikan Mudjio, Mudji Sih Topo, Mudji Nur Isa Putra. Kalau dihitung seluruhnya anak cucu Mudjio maka anakku kelak adalah Mudji ke-15 dari urutan kelahiran. Dari sisi keturunan ialah Keturunan ke-4.

J_ _ _ nama jawa, sudah berusaha mengumpulan nama Sansekerta. Juga nama-nama jawa pada umumnya.

A_ _ _ nama Alkitab ini yang agak berat, karena anakku harus berkelakuan sesuai Firman Tuhan, takutnya jadi bebanya kelak. Tapi kalau Tuhan yg memilih, pasti Tuhan yang menentukan.

Aku berkata, tidak serta merta kita cari nama. Petama kamu belum hamil, kedua setiap kehamilan biasanya ada peristiwa khusus atau pertanda khusus dari situlah nama anak kita akan muncul. 


Dan Yesaya 44 adalah peristiwa khususnya. Maka nama anak kami terbentuk. Namun hanya anak laki-laki. "Kita harus menyiapkan dua nama, laki-laki dan perempuan meskipun Firman Tuhannya mengarah ke laki-laki." Maka kami kembali bertukar pikiran, dan munculah 2 nama. Laki-laki dan perempuan. Yang kelak akan kami publikasikan sejak lahir.


5 Desember 2021, dini hari. Aku masih bekerja shift 3. Istriku mengirim foto lewat WA. Hasil tes kehamilan menunjukan strip dua. Tentu saja kami gembira. Beberapa hari kemudian kami ke bidan desa. Untuk konsultasi.


13 Desember 2021, kami ke dokter kandungan guna memastikan hasil usg. Namun hasilnya sempat membuat istriku drop. 

Tidak terlihat. "Kalau hamil di sini terlihat ada kantongya." Kata dokter, dan aku melihat ekspresi wajah dan sorot mata istriku. Agaknya dia kecewa dan cemas. "Tunggu 2 minggu lagi, siapa tahu hanya terlambat menstruasi. Jika dalam 2 minggu ini mens, hari kedua datanglah ke mari. Saya kasih obat penyubur. Tapi kalau tidak, datang lagi 27 Desember 2021. Seharusnya sudah kelihatan.


Saat pulang aku jelaskan ke istriku, "usg itu hanya alat untuk melihat. Bisa jadi masih kecil. Namun secara klasik ciri-cirimu menunjukan hamil. Zaman sebelum ada usg kan orang-orang menggunakan ciri-ciri. Tenang aja masak Tuhan salah memberi tanda. Janin usia nol itu saat terjadi pembuahan, yakni sperma bertemu ovum. Waktunya kapan? Tidak ada yang tahu. Kita tidak tahu, apalagi dokter. Hanya Tuhan yang tahu, tepatnya kapan. Manusia hanya meperkirakan berdasarkan hari terakhir haid. Karena itu yang mudah dihitung bukan. Bisa jadi, prmbuahannya sekitar saat kamu baca Yesaya. Artinya usianya baru 2 minggu, bukan 6 minggu berdasarkan tanggal haid. Jadi, tenang aja. Kita lihat nanti."

Setelah kujelaskan ia agak mulai tenang. Bangaimana hasil tgl 27? Kita tunggu saja. Apapun yang terjadi, rencana Tuhan selalu indah.


Kamis, 13 Mei 2021

KERTA BHUAWANA

 


Tan Hana Wighna Tan Sirna.

Bhakti Bhina Kerta Bhuwana.

Ambrasta dur Hangkara.

Memayu Hayuning Bawana.



[Tak ada rintangan yang tak dapat dilalui.

Berbakti membina kemakmuran bumi.

Memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

Mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan.]

Rabu, 21 April 2021

Lucifer bukan Raja Iblis

 Benarkah Lucifer  adalah Raja Iblis 

Mari kita lihat berdasarkan Naskah Asli - Clementine Vulgate - King James - Terjemahan Baru

Job 11:17 (ALP)  יז  ומצהרים יקום חלד    תעפה כבקר תהיה

איוב 11:17 (WLC)  וּמִצָּהֳרַיִם יָקוּם חָלֶד תָּעֻפָה כַּבֹּקֶר תִּהְיֶה׃

Iob 11:17 (CLEM) Et quasi meridianus fulgor consurget tibi ad vesperam ; et cum te consumptum putaveris, orieris ut lucifer.

Job 11:17 (KJV)  And thine age shall be clearer than the noonday; thou shalt shine forth, thou shalt be as the morning.

Ayub 11:17 (TB)  Kehidupanmu akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari, kegelapan akan menjadi terang seperti pagi hari. 




Isaiah 14:12 (ALP)  יב איך נפלת משמים הילל בן שחר נגדעת לארץ חולש על גוים

ישעיהו 14:12 (WLC)  אֵיךְ נָפַלְתָּ מִשָּׁמַיִם הֵילֵל בֶּן־שָׁחַר נִגְדַּעְתָּ לָאָרֶץ חֹולֵשׁ עַל־גֹּויִם׃

Isaiae 14:12 (CLEM) Quomodo cecidisti de cælo, Lucifer, qui mane oriebaris ? corruisti in terram, qui vulnerabas gentes ?

Isaiah 14:12 (KJV)  How art thou fallen from heaven, O Lucifer, son of the morning! how art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations!

Yesaya 14:12 (TB)  "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! 




Επιστολή Πέτρου Β' 1:19 (NEB)  Και εχομεν βεβαιοτερον τον προφητικον λογον, εις τον οποιον καμνετε καλα να προσεχητε ως εις λυχνον φεγγοντα εν σκοτεινω τοπω, εωσου ελθη η αυγη της ημερας και ο φωσφορος ανατειλη εν ταις καρδιαις υμων·

2 Petri 1:21 (CLEM) Et habemus firmiorem propheticum sermonem : cui benefacitis attendentes quasi lucernæ lucenti in caliginoso donec dies elucescat, et lucifer oriatur in cordibus vestris :

2 Peter 1:19 (KJV)  We have also a more sure word of prophecy; whereunto ye do well that ye take heed, as unto a light that shineth in a dark place, until the day dawn, and the day star arise in your hearts:


2 Petrus 1:19 (TB)  Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. 



Dari naskah-naskah tersebut, Lucifer tidak berarti si Raja Iblis. Namun berarti Bintang Timur atau Fajar. Lucifer merupakan kata benda, bersifat netral sehingga maknanya tergantung kalimat. 

Jumat, 09 April 2021

Bumi Waris

Dengan bangga seorang ayah berkata

Nenek moyang kita hebat nak

Dahulu kala bangsa kita memiliki perdaban 

Kapal-kapal menguasai lautan nusantara

Candi-candi dibangun dengan megah

Karya sastra tertulis indah dalam lontar


Sang anak terkesima lalu bertanya

Lalu apa yang ayah lakukan di masa muda

Apakah ayah juga membuat kapal

Apakah ayah memahat arca 

Atau menulis nada dan irama

Aku bahkan belum pernah melihat band ayah 


Sang ayah terdiam 

Penyesalan tersirat dalam hatinya

Betapa aku telah mensia-siakan masa muda

Hanya dengan menghayal kejayaan masa silam

Menikmati bumi waris Wilwatikta

Namun tidak mewariskan apa-apa ke generasi selanjutnya



Mudji Isa

Majapahit,   April 2021


Rabu, 07 April 2021

TERJEBAK ABAD KE12

  

 

Bangkitnya Kejayaan Majapahit tanpa kita sadari telah menjadi slogan yang menjebak pikiran kita. Kita terbuai dalam kejayaan masa silam, terbuai tentang kehebatan nenek moyang kita di abad 12-15, bahkan lebih dari itu kita terbuai dengan kecangihan teknologi serta pemikiran leluhur kita abad ke 8 ketika Borobudur dan Prambanan dibangun. Apakah salah bangga dengan kemajuan peradaban masa lalu. Tidak, sama sekali tidak. Namun menjadi salah jika kejayaan masa lalu hanya menjadi khayalan, atau hanya sebatas slogan bahwa kita keturunan orang hebat, kemudian berhayal bahwa kecerdasan mereka kita kuasai, kekayaan mereka kita miliki dengan hanya mengharapkan warisan. 

Majapahit tidak mungkin bisa bangkit lagi seperti dahulu kala, beberapa pertimbangannya ialah jumlah agama sudah bertambah, sistem kepemimpinan sudah berubah, peralatan penunjang kehidupan sehari-hari sudah jauh berbeda. Jadi, jangan mengharapkan seorang Raja muncul memerintah kita, kita punya kapal perang yang tangguh, hidup makmur.  Perlu kita ingat, tulisan masa lalu masih berorientasi istana sentris, karena para penulis seperti Mpu Tantular, Mpu Prapanca mereka adalah penulis di kalangan istana. Kondisi kehidupan rakyat sehari-hari tidak kita ketahui secara persis.

Bagaimana generasi kita menyikapinya, ya mari kita ambil spiritnya, kita ambil semangatnya. Kita gunakan kelebihan kita sebagai ahli waris Majapahit untuk membangun Indonesia. Kita gunakan pengetahuan ilmiah, gabungkan dengan nilai spititual nenek moyang. Kita ambil Prasasti Trowulan 1, disana terlulis Majapahit memiliki pelabuhan Canggu yang merupakan pelabuhan sungai teramai, di sana tempat pertukaran barang-barang dagangan dari Maluku, India, Cina dengan hasil bumi Majapahit yang di dominasi padi. Dalam prasasti tersebut pedagang asing dikenakan pajak, namun pribumi bebas pajak. Tindakan kita hari ini, apakah perlu membuat rekontruksi pelabuhan, membuat duplikat kapal dagang? Tidak perlu, yang kita ambil adalah peraturan pajaknya. Dalam era Indonesia sekarang, bagaimana jika pengusaha asing kita kenakan pajak tinggi, sedangkan usaha rakyat asli Indonesia yang masih perintisan dibebaskan pajaknya, jika ingin membuat event promosi dimudahkan segala perijinannya. Mungkin tidak bebas sama sekali, namun harganya terjangkau. Sehingga banyak para kreator dengan modal minim dapat dukungan dari pemerintah, sedangkan pemodal besar dari asing kena pajak tinggi.

Dalam Negarakretagama, para durjana dihabisi, desa yang berprestasi menjadi tanah perdikan. Untuk membangkitkan Majapahit apakah perlu mambuat kirab budaya sebagai duplikat Hawam Wuruk dalam mengunjungi desa-desa? Tidak harus seperti itu, namun spiritnya yang kita ambil. Durjana, yakni penjahat yang mengerogoti negara seperti koruptor ya kita babat habis, tanpa kompromi. Rakyat yang berjasa dalam berbagai bidang mendapat penghargaan dari pemerintah. Tulisan ini mungkin bertentangan dengan pemikiran banyak orang, jika berbeda mari kita diskusi.

Selasa, 28 April 2020

666







Jika anda butuh kata-kata penghiburan atau yang menguatkan, jangan lanjutkan membaca tulisan ini. Saya mengajak berfikir bagaimana jika hal terburuk yang terjadi, tak ada harapan, tak ada jalan keluar. Bayangkan jika pandemi covid-19 ini berlalu, namun bukan kebahagiaan yang kita peroleh melainkan penderitaan yang lebih menyakitkan menghampiri. Bencana yang terjadi di dunia hari ini hanya permulaaan dari penderitaan yang lebih panjang. Setelah virus hilang, makanan juga hilang dari muka bumi, semua orang menderita kelaparan. Kemudian munculah pahlawan di tengah kekacauan, sang pahlawan akan mengatur dan mengendalikan dunia, menjamin semua orang bisa makan. Pahlawan itu sekelompok manusia yang memiliki kekuasaan, kekuatan dan dapat mewujudkan perdamaian serta ketahanan pangan dunia. Sayangnya kelompok ini tidak percaya dengan adanya Tuhan, dan ia membuat peraturan barang siapa yang masih ingin hidup harus menyangkal keberadaan Tuhan. Jika hal itu terjadi, tindakan apa yang akan anda ambil?